Tag Archives: semarang

Desa Wisata Kopeng, Semarang – Jawa Tengah Wisata Petik Bunga hingga Hiking

Letaknya di ketinggian 1450 meter di atas permukaan laut menjadikan kawasan ini terasa begitu sejuk. Berada di lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong menjadikan Kopeng sebagai tempat yang cocok untuk tanaman bunga dan buah-buahan.

Kehangatan sikap masyarakat desa pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sini. Berbagai pilihan wisata tersaji seperti wisata alam pegunungan, budaya hingga wisata kuliner.

Bagi penyuka bunga dan tanaman hias, terdapat klaster yang menyajikan aneka ragam tanaman bunga dan hias. warna-wani bunga akan membuat betah setiap pengunjung. Harga tanaman yang dijual pun cukup terjangkau, pengunjung tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk belanja tanaman disini.

Nikmati juga serunya memetik strawberry langsung dari kebunnya. Untuk kegiatan petik strawberry cocok dilakukan bersama keluarga. Selain bunga, buah dan tanaman hias pengunjung pun bisa berbelanja sayur-sayuran segar.

Beragam jenis kerajinan juga dapat diburu sebagai cendramata dari desa yang pada 2009 mendapat predikat sebagai Rintisan Desa Vokasi sekaligus Pilot Project Desa Konservasi ini.

Kawasan ini juga menjadi salah satu base camp pendakian ke puncak Gunung Merbabu. Bagi yang senang wisata petualang bisa memilih wahana Kopeng Tree Top Adventure Park.

Di Kawasan Desa wisata Kopeng terdapat air terjun Umbul Songo (sembilan mata air). Kesembilan sumber mata air berada di sekitar Tekelan, Contre, Tayengan, Selodhuwur, Kopeng, Peng Jero dan Kali Sati.

Menurut cerita masyarakat, Umbul Songo ditemukan oleh para wali pada zaman Kesultanan Demak. Para wali ini kemudian berdoa kepada Allah SWT, memohon dimudahkan memperoleh sumber mata air, guna keperluan bersuci, kemudian keluarlah mata air dengan debit besar. sumber air ini dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan akan air wudhu.

Rute panduan dan fasilitas
Desa Wisata Kopeng terletak di Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang berjarak tempuh sekitar 14 km dari kota Salatiga dan sekitar 54 km dari kota Semarang. Akses jalan menuju kawasan ini sudah sangat baik sehingga mudah untuk mencapainya. Fasilitas pendukung wisata tersedia lengkap disini.

Sumber: Majalah Travel Club

Mencari Eksistensi di Candi Gedongsongo

RANGKAIAN petualangan wisata di Ambarawa belum berakhir. Setelah semalaman melepas kepenatan bersama kenangan indah perjalanan, masih ada satu tujuan kunjungan wisata yaitu Candi Gedongsongo.

Candi Gedongsongo terletak di lereng gunung Ungaran dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Dari kota Ambarawa hanya berjarak 15 kilometer ke arah utara atau delapan kilometer dari Bandungan di bagian utara.

Udara nan sejuk bahkan cenderung dingin dengan suhu berkisar 19 – 27 derajat Celcius apalagi pada musim hujan seperti saat ini mudah dijumpai kabut tebal menutup areal pegunungan dan bangunan candi. Jalan menanjak 60 derajat dan berliku beraspal mulus cukup membuat sulit pengendara.

Bagi kendaraan besar seperti bus, terpaksa parkir di bawah sekitar 1 kilometer dari pelataran parkir di pintu gerbang. Ke pintu candi bisa ditempuh dengan jalan kaki, naik ojek atau kendaraan kecil karena tanjakan yang cukup tinggi.

Memasuki area candi, pintu gerbang bermaterial batu alam warna hitam sudah terlihat menjulang dari jarak 500 meter. Setelah membayar tiket masuk Rp6.000 untuk orang dewasa dan Rp3.000 (anak-anak) atau Rp7.000 (orang asing), perjalanan panjang siap menanti.

Desis angin dan gesekan pohon di hutan cemara menambah kesahduan saat menapaki jalan berbatu menuju candi pertama berjarak satu kilometer dari pintu gerbang.

Sebuah candi peninggalan budaya Hindu pada jaman Wangsa Syailindra (Abad IX) atau tahun 927 Masehi terlihat megah berdiri di atas gundukan bukit. Bangunan candi itu sempat runtuh dan tertimbun tanah material gunung Ungaran dan ditemukan lagi oleh Raffles pada 1804.

Udara yang dingin tak sanggup menahan keringat berkucuran setelah menapaki jalan bebatuan menanjak. Namun bagi orang tua atau anak-anak jangan khawatir, karena puluhan kuda siap membawa dengan ongkos Rp52.000 (wisatawan lokal) dan Rp70.000 (wisatawan asing) untuk satu paket perjalanan, mulai candipertama hingga 9 yang jaraknya mencapai empat kilometer.

Berada di lokasi bangunan candi ke sembilan yang terlihat anggun di atas puncak bukit bagaikan melambangkan perjalanan akhir manusia mencapai kesempurnaan. “Kita merasakan betapa kecil dan tidak berartinya manusia di hadapan Tuhan pencipta alam semesta,” ujar seorang wisatawan.

Alam semesta sangat indah, dari candi yang bercirikan bangunan dari kerajaan Hindu Nusantara yaitu bangunan pemujaan, seakan membawa kita berada di angkasa dengan pemaandangan ke bawah terlihat seperti gunung, danau, perkampungan, perkebunan, hutan dan seisi alam lainnya.

Setelah kekaguman dan keindahan yang sulit di dapat di lokasi wisata lainnya, maka pengunjung bisa turun lewat jalur alternatif.

Nah, di tengah perjalanan atau sekitar dua kilometer ke bawah kita dapat menikmati pemandian air panas alam. Mandi di air panas alam ini, selain menjadikan kesegaran badan konon juga dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit, karena mengandung belerang. Bagi yang malu berada di kolam umum dapat mandi di ruangan khusus yang telah disediakan.

Bagi Anda yang tidak membawa bekal makanan, di sana banyak penjual makanan yang tersaji hangat. Kebugaran rohani dan ragawi sepertinya lengkap sudah. Sebuah pengalaman yang sulit diperoleh di lokasi wisata lainnya.(mediaindonesia.com/M-1)

Semarang Sajikan Ragam Wisata

Berkunjung ke Kota tua ini belum lengkap jika belum bertandang ke Lawangsewu, menyaksikan Klenteng Sam Po Kong dan Gereja Blenduk serta mencicipi Lumpia dan Tahu Gimbal.

Alunan merdu lagu Gambang Semarang terasa lembut di telinga menemani kedatangan saya di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah. Bangunan tua ini nampak masih kokoh berdiri dan tetap berfungsi seperti sediakala. Stasiun kereta api besar ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia.

Dua kunjungan sebelumnya ke Ibukota Jawa Tengah ini hanya sebagai persinggahan saja, akhirnya, kali ketiga menginjakkan kaki di Semarang atas undangan Dirjen pemasaran Kementerian Pariwisata dan ekonomi Kreatif (Kemanparekraf), sebuah pengembaraan singkat bisa saya lakukan, melihat dari dekat salah satu kota bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa tersebut ternyata menggoreskan kenangan.

Mungkin jika bicara sebagai kota wisata, kota ini belum sepopuler Bandung atau Yogyakarta yang menjadi destinasi wisata favorit di Jawa. Tapi percayalah, mengunjugi Semarang saat mengisi liburan adalah sebuah pilihan tepat. Wisata sejarah, kuliner, budaya, religi hingga belanja berpadu di sini.

Sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, Semarang sudah menjadi kota penting. Fungsinya sangat strategis sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat perdagangan kala itu. Sisa-sisa peninggalan masa lalu itu setidaknya bisa disaksikan di kawasan Kota Lama. Sebuah kompleks bangunan tua yang menjadi ikon wisata sejarah di Semarang.

Deretan bangunan berarsitektur masa lalu masih berdiri kokoh di sini. Beberapa gedung masih berfungsi sebagai perkantoran, hotel, rumah tinggal, hingga tempat ibadah. Salah satu bangunan paling terkenal di kota lama adalah Gereja Blenduk yang terletak di Jalan Letjend. Soeprapto nomor 32. Disebut “blenduk” lantaran gedung yang dibangun pada 1753 ini memiliki kubah sehingga dalam bahasa Jawa bentuk tersebut disebut “mblenduk” atau cembung.

Menikmati santap siang kala itu, saya memilih Toko Oen yang berada di Jalan Pemuda No 52. Toko yang sudah buka sejak 1936 ini, tidak hanya menyajikan makanan. Suasana interior Toko Oen seolah mengajak pengunjungnya kembali memasuki rumah makan pada masa sebelum kemerdekaan. Mesin ketik zaman baheula, dan seperangkat kursi kayu semakin menguatkan suasana masa silam.

Salah satu menu terkenal di toko yang kini dikelola generasi keempat dari Oen Tjoen Hoek sang pendiri, adalah menu es krimnya. Kelezatan rasa es krim tanpa pengawet di Toko Oen dijamin meninggalkan kerinduan untuk kembali mencicipinya. Toko yang awalnya menjual kue-kue kering ini pun menyajikan beragam menu masakan, mulai Eropa, Indonesia hingga aneka masakan asal Tiongkok.

Masyarakat Semarang memiliki sejarah panjang dengan bangsa Tiongkok. Hubungan keduanya telah terjalin sejak beratus tahun silam, jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kakinya di sini. Adalah Zheng He/Cheng Ho seorang laksamana besar dari negeri Cina, dalam ekspedisi lautnya rombongan Cheng Ho pernah singgah di Pantai Simongan Semarang.

Salah satu bukti peninggalan lawatan laksamana muslim ini adalah bangunan yang kini menjadi Klenteng Gedung Batu (Sam Poo Kong). Klenteng yang kini berada di Jalan Simongan 129 tersebut menjadi salah satu tujuan wisata sejarah sekaligus wisata religi.

Dan, sempatkanlah untuk mengujungi Tugu Muda. Kawasan ini adalah salah satu ikon kota yang pernah berjuluk “Venice Van Java” ini. Tugu Muda berbentuk lilin ini berdiri tegak di persimpangan Jalan Sutomo, Jalan Pandanaran, Jalan Imam Bonjol,
dan Jalan Soegiopranoto. Tugu yang diresmikan pada 20 Mei 1953 tersebut dibangun sebagai monumen memperingati perjuangan masyarakat Semarang dalam pertepuran lima hari pada 15-20 Oktober 1945 melawan tentara Jepang.

Berdekatan dengan Tugu Muda ada Gedung Lawang Sewu yang tak boleh dilewati. Bangunan bekas jawatan kereta api pada masa penjajahan tersebut masih terlihat berdiri megah diantara bangunan-bangunan modern bertingakat. Gedung karya arsitek Belanda Prof. Jacob F Klinkhamer dan BJ. Queendag tersebut dibangun pada 1903.

Menjelang malam, wisata kuliner kembali menjadi pilihan mengisi perjalanan singkat ini. Semarang memiliki banyak pilihan tempat wisata kuliner malam hari. Kebetulan saya tertarik berwisata kuliner di Jalan Gajah Mada. Sepanjang jalan ini menjadi pusatnya pedagang sate dengan konsep lesehan.

“Sate Ayam Madura Pertama di Gadjah Mada” begitu tertulis di warung milik HM. Hasan yang menjadi tempat pilihan saya. Sebenarnya, sate disini tak jauh beda dengan sate biasanya. Hanya saja, sambal sate disini disajikan dalam potongan cabe rawit dan bawang merah. Cukup merogoh kocek Rp 13.000, seporsi sate ayam sudah bisa dinikmati. Pedagang sate di sepanjang jalan ini mulai buka pukul 17.00-24.00.

Hari kedua di Semarang, saya mulai dengan mengunjungi Pagoda Avalokitesvara di kota atas Semarang, tepatnya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Semarang. Bangunan yang dibuat pada 2005 ini terdiri dari tujuh tingkat yang bermakna tingkat ketujuh adalah puncak dimana seorang petapa mencapai kesucian. Disetiap tingkat terdapat empat patung Dwi Kwan In. Sebagian besar bahan material bangunan setinggi 45 meter tersebut didatangkan dari Cina.

Menjelang siang, mengunjungi Masjid Agung Semarang yang terkenal megah dengan desain modern. Masjid di Jalan Gajah Raya ini memiliki fasilitas pendukung yang lengkap seperti perpustakaan, auditorium, toko cenderamata, hingga fasilitas penginapan. Luas lahan yang digunakan masjid ini mencapai 10 Hektar dengan luas bangunan utama untuk shalat 7.669 meter. Desain arsitektur Masjid Agung Semarang mengkombinasikan arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani.

Sebelum menutup perjalanan di Semarang, saya sempatkan singgah ke Jalan Pandanaran untuk membeli oleh-oleh. Bandeng presto, wingko babat, lumpia (loen-pia), tahu gimbal dan aneka makanan khas Semarang lainnya.

Kawasan Simpang Lima Semarang sebagai salah satu ikon Kota Semarang merupakan titik pertemuan dari Jalan Pandanaran, Jalan Pahlawan, Jalan Ahmad Yani, Jalan KH Ahmad Dahlan dan Jalan Gajah Mada. Menikmati suasana senja di Simpang Lima menjadi penutup perjalanan sebelum kembali ke hotel. Segelas kopi menjadi teman sambil mendengarkan kembali lagu Gambang Semarang.

Sumber: Majalah Travel Club

Museum Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah Tower Asmaul Husna – Masjid Agung Jawa Tengah

Sejak diresmikan 14 November 2006, Masjid Agung Jawa Tengah menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi wisawatan dari berbagai daerah. Desain modern dan indah yang mengacu kepada gaya arsitektur timur tengah, bukanlah satu-satunya daya tarik yang dapat dinikmati. Hadirnya museum tampaknya menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai sejarah Islam.

Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah mencatat sejarah perkembangan agama Islam di Jawa Tengah. Museum ini berada di lantai dua dan tiga dari Tower Asmaul Husna di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah yang berlokasi di Jl. Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kota Semarang.

Pada lantai dua terdapat koleksi diorama dan lukisan yang bercerita tentang awal perkembangan Islam di Jawa Tengah sampai terjadinya dialog antara Islam dengan budaya lokal. Sedangkan pada lantai tiga, menampilkan koleksi-koleksi budaya pesantren sampai dengan berdirinya Masjid Agung Jawa Tengah, seperti Al Quran yang disadur selama 70 tahun dengan aksara Jawa pada 1835 oleh salah seorang abdi dalem Keraton Surakarta.

Tidak ketiggalan koleksi berupa artefak yang seolah turut bercerita bagaimana proses penyebaran Islam lewat budaya yang ada pada masyarakat pada masa itu. Diantaranya koleksi berupa: Wayang Golek Menak, Wayang Sadat, Gayor Masjid Sunan Muria, Gamelan, Ornamen Dua Sisi, Ornamen Masjid Mantingan, Keramik, Koleksi peninggalan Islam Awal, Artefak Kapal Dagang, Miniatur Menara Kudus, dan banyak koleksi lainnya yang menuntun kita menelusuri sejarah Islam di Jawa Tengah.

Jam layanan untuk umum terbuka pada hari Selasa sampai minggu pukul 08.00 – 15.00. Hari Senin libur. Untuk masuk ke dalam museum dan Tower Asmaul Husna pengunjung dikenakan biaya Rp 3.000, per orang (data 2009) termasuk melihat indahnya Kota Semarang dari atas tower.

Dengan muatan sejarah Islam yang begitu kental destinasi ini tentunya sangat sesuai untuk berwisata religi bersama keluarga. Terlebih bagi Anda yang mengisi libur lebaran tahun ini di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Sumber: Majalah Travel Club

Kepulauan Karimun Jawa – Jawa Tengah Menyelami Kampung Bahari

Mendengar nama Karimun Jawa tentu tak bisa dilepaskan dari keindahan bentang alam kepulauan dengan taman bawah lautnya. Tak salah lagi, Karimun Jawa memang salah satu surga wisata bahari di Jawa Tengah.

Luas wilayah teritorial kawasan ini adalah 107.225 hektare (ha), sebagian besar berupa lautan (100.105 ha), sisanya seluas 7.120 ha adalah daratan. Dengan kondisi ini tentunya sektor bahari menjadi kekuatan bagi pariwisata Karimun Jawa. Namun demikian bukan berarti kepulauan yang masuk dalam kabupaten Jepara ini tak memiliki daya tarik wisata selain bahari.

Karimun Jawa dihuni penduduk dari berbagai suku, ada tiga suku mayoritas yang mendiami kawasan ini yakni Jawa, Bugis, dan Madura. Masyarakat Jawa kebanyakan berprofesi sebagai petani, ada pula yang menekuni industri rumah tangga, seperti membuat minyak kelapa dan batu bata merah. Sementara, suku Bugis dan Madura banyak yang memilih profesi sebagai nelayan.

Menyaksikan keragaman penduduk Karimun Jawa dengan budayanya masing-masing sebuah pilihan yang cukup menarik. Berbagai atraksi seni dan budaya seperti reog (kuda lumping), gamelan Jawa, rebana, dan pencak silat, masih rutin ditampilkan. Selain itu, kegiatan masyarakat setempat, seperti pelepasan penyu, upacara pelepasan perahu, dan khoul sunan Nyamplungan (peringatan satu Suro) juga menjadi agenda yang rutin digelar.

Lazimnya ketika berwisata bahari maka cenderamata yang dibawa adalah produk dengan bahan yang diambil dari laut. Di Karimun Jawa aturan tersebut tidak berlaku, banyak pilihan kerajinan sebagai buah tangan salah satunya adalah kerajinan yang terbuat dari kayu langka seperti kayu Setigi, kayu Dewadaru, dan kayu Kalimasada.

Rute Panduan dan Fasilitas

Kepulauan Karimun Jawa masuk dalam kabupaten Jepara, letaknya sekitar 45 mil arah barat laut kota Jepara. Kepulauan Karimun Jawa bisa dicapai melalui Jepara, penyeberangan dari Pelabuhan Kartini dengan menggunakan kapal motor. Atau bisa dicapai melalui Semarang namun jalur ini memakan waktu lebih lama.

Sumber: Majalah Travel Club

Sepenggal Keelokan di Kaki Gunung Ungaran

Jalan aspal menanjak dan berkelok menjadi menu awal sebelum memasuki kawasan wisata Umbul Sidomukti. Selain rumah-rumah penduduk, hijau pepohonan dan kebun serta petakan sawah menjadi teman seperjalanan, sejuk menenangkan mata.

Gerimis tipis sempat membuat saya sedikit khawatir tak bisa menikmati keindahan panorama alam kawasan wisata di lereng Gunung Ungaran ini. Beruntung gerimis tak lagi melanjutkan kisahnya. Meski awan tebal menyelimuti langit, namun sinar matahari sesekali masih mengintip. Petualangan pun dimulai.

Menghirup dalam-dalam segarnya udara pegunungan menjadi ritual pertama ketika kaki ini turun dari mobil dan menginjak tanah Desa Sidomukti. Segar terasa ketika menghirup bersih udaranya.

Sejauh mata memandang di kiri dan kanan, hanya hamparan hijau pepohonan yang terlihat menyelimuti alam. Gunung Ungaran memiliki kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Hamparan sawah berundak, hutan pinus dan bukit kembar Cimanggul mengajak mata kamera untuk terus mengabadikan keelokannya. Umbul Sidomukti resmi dibuka sebagai tempat wisata pada Agustus 2007. Berbagai fasilitas wisata telah terbangun di lahan seluas 36 hektare ini.

“Kawasan ini memiliki empat tema utama, Recreation, Education, Adventure, dan Leisure atau disingkat REAL,” kata Bambang Ari Wijanarko, Direktur Kawasan Wisata Umbul Sidomukti.

Kehidupan penduduk sekitar menjadi daya tarik lain tempat wisata ini. Mayoritas warga Desa Sidomukti bekerja sebagai petani. Selain padi, mereka juga menanam holtikultura. Bambang menjelaskan konsep education yang dikembangkan pun mengajak wisatawan mengenal lebih dekat dengan pertanian. “Kegiatan wisata edukasi berupa belajar menanam, proses pengolahan hingga proses panen,” katanya.

Perhatian saya terusik oleh dua orang ibu yang tengah asyik memanen daun bawang, masyarakat sekitar mengenal tanaman ini dengan sebutan ondang. Selain itu, Sri Miarti dan Sabela juga menanam buncis dan wortel.

Sabela menjelasakan, biasanya wisatawan membeli wortel dan buncis sebagai buah tangan. Selain segar, harganya pun relatif terjangkau. ” Wortel Rp 3.000 per kilogram, buncis Rp 4.000 perkilogram, kalau dulu kami harus jual ke pasar tapi sekarang banyak wisatawan yang beli langsung di sini,” kata Sri Miarti, berkisah.

Selesai berbincang sejenak dengan dua petani tersebut, saya lanjutkan mengunjungi arena permainan. Bentang alam pegunungan dengan lembah-lembah curam bagi sebagian orang bisa menjadi sebuah tantangan yang seru untuk di taklukkan.

Beberapa pilihan fasilitas permainan menantang alam sudah tersedia disini. Ada flying fox dengan lintasan sepanjang 110 meter diatas lembah sedalam 70 meter, dipastikan mampu memacu adrenalin. Belum cukup flying fox, bisa merasakan tantangan marine brigde, berjalan melintasi lembah sedalam 30 meter diatas jembatan jaring sepanjang 50 meter. Seru, kan?

Pilihan lain aktivitas petualangan adalah rapeling atau turun tebing setinggi 30 meter, nyali benar-benar di uji disini. Tidak kalah seru wisatwan juga bisa memilih river tracking atau susur sungai sepanjang lebih kurang dua kilo meter. Sensasi menyerukan, berjibaku menaklukkan aliran sungai berbatu. Jernih airnya sangat menyegarkan, tubuhpun seperti tak terasa lelah. Lengkapi petualangan dengan menunggang ATV menerobos kabut di lereng Gunung Ungaran.

Kawasan Wisata ini juga sudah dilengkapi fasilitas penginapan, meski jumlah kamarnya masih terbatas namun fasilitas yang ditawarkan cukup lengkap.

“Kedepan ada beberapa lokasi akan dijadikan tempat penginapan dengan konsep adventure. Desain bangunan tempat penginapan rencananya akan dibuat hotel container, jadi bangunan hotel terbuat kotak container,” kata Bambang lagi.

Setelah puas bekeliling, sebagai pelengkap, mencicipi sajian kuliner menjadi penutup perjalanan singkat ini. Saya memilih ikan mas bakar, pilihan yang tepat rupanya, rasanya tak mengecewakan, bumbunya pas di lidah, plus sambal maka semakin nikmat saja menyantapnya ditengah kesejukan udara pegununungan.

Selesai memanjakan lidah dan perut, saya pun harus segera meninggalkan wisata menakjubkan ini, kabut tipis senja hari seolah melepas kepergian saya. Sebuah pengalaman indah terukir di kabupaten Semarang. Sampai jumpa lagi Ungaran, kelak saya pasti kembali mencumbui eloknya alammu.

Berendam di Ketinggian Alam

Tak lengkap rasanya berwisata desa Sidomukti jika tidak berendam dikolam renang Umbul Sidomukti. Berada di tepi lembah ungup-ungup pada ketinggian 1.100 dpl, Kolam renang alam ini disebut sebut tertinggi se-Indonesia bahkan Asia.

Desain kolam di buat dengan konsep tradisional, bergaya minimalis sehingga menghadirkan kenyamanan. Air kolam ini berasal dari Tuk (mata air) Ngetihan yang memancar dari dalam tanah. Semburan air secara alami menyembul ke udara, setinggi 1,5 meter.

Selain menyegarkan, dari lokasi kolam ini bentang alam Gunung Ungaran terlihat jelas dikejauhan, bukit kembar nampak menghijau terbalut pepohonan.

Kawasan Wisata Umbul Sidomukti
Alamat: Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan,
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Telp: (024) 701 286 86
Faks: (024) 701 287 87
Website: www.umbulsidomukti.com

Sumber: Majalah Travel Club

Lawang Sewu Bangunan Anggun Berbalut Sejarah

Di usianya yang lebih dari satu abad Lawang Sewu masih menampakkan keanggunannya. Dari sini sejarah perkerataapian Indonesia bermula.

Pada Jum’at 17 Juni 1864, di Desa Kemijen, Semarang, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele melakukan pencangkulan pertama pembangunan jalur kereta api. Pembangunan jalur kereta api ini diprakarsai perusahaan kereta api bernama Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM).

Setelah pembangunan berjalan sekitar tiga tahun, jalur kereta api ini sudah bisa difungsikan untuk melayani rute Semarang-Desa Tanggung yang berjarak tak lebih dari 26 kilometer. Setelah pembangunan jalur itu, perkembangan jalan kereta api di Indonesia kemudian meningkat dengan pesat. Hingga 1900, panjang jalur kereta api mencapai 3.338 km.

Guna melaksanakan pekerjaan administratif NV.NISM, Sloet Van Den Beele memerintahkan membangun sebuah gedung yang akan digunakan sebagai kantor jawatan kereta api pertama tersebut. Di tunjuklah Ir. P. de Rieut sebagai arsitek bangunannnya. Namun sayang hingga sang jenderal meninggal dunia, pembangunan belum juga terlaksana.

Prof Jacob K Klinkhamer dan Bj Oudang kemudian dipercaya pemerintah Belanda untuk melanjutkan rencana pembangunan gedung tersebut. Akhirnya lokasi gedung dipilih di sekitar kawasan Wilhelmina Plein sekarang bernama kawasan Tugu Muda. Inilah awal mula Lawang Sewu memberi warna dalam lansekap Kota Semarang.

Pembangunan pun dimulai pada 1904. Selang tiga tahun, bangunan pun resmi digunakan sebagai kantor NV NIS. Bagian depan gedung ini diapit dua menara, di belakang keduanya, Bangunan ini berdiri memanjang bak sepasang sayap.

Lawang Sewu merupakan gedung dengan arsitektur perpaduan Indische dengan keunikan lokal. Material-material penting bangunan ini didatangkan langsung dari Eropa. Kaca mozaik yang mengiasi interior bangunan ini pun menampilkan keindahan yang membuat kagum.

Lawang Sewu merupakan nama yang diberikan masyarakat Semarang yang berarti “Pintu seribu”. Nama ini disematkan karena begitu banyak jumlah pintu dan lubang yang ada dibangunan itu. Gedung ini dibuat dengan pendekatan terhadap kondisi iklim setempat yang beriklim tropis.

Sentuhan seni yang tertuang membuat gedung ini tetap terlihat anggun meski sudah berusia uzur. Kemegahan dan keindahan bangunan Lawang Sewu telah membuat decak kagum banyak orang, karen ini jugalah julukan Mutiara dari semarang disematkan. Lawang Sewu kemudian menjadi landmark Kota Loenpia ini.

Memasuki masa kemerdekaan Bangunan yang menganut gaya Romanesque Revival ini beberapa kali berpindah tangan. Mula-mula dimanfaatkan sebagai kantor Perusahaan jawatan kereta Api (PJKA) milik Indonesia.

Lawang Sewu kemudian pernah digunakan Kodam IV Diponegoro sebagai Kantor Badan Prasarana. Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah juga pernah bermarkas di sini.

Sejarah pun mencatat, di gedung ini menjadi saksi peristiwa heroik yang dikenal sebagai “pertempuran lima hari Semarang”. Kontak senjata terjadi antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan Kempetai dan Kido Buati Jepang.

Pertempuran yang berlangsung 14-19 Oktober 1945 itu telah menggugurkan banyak pejuang. Beberapa jasad yang gugur dimakamkan di halaman gedung ini, namun pada 1975 makam mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal.

Dengan semua keindahan arsitektur dan perjalanan sejarahnya yang panjang, kini Lawang Sewu menjadi daya tarik banyak orang yang ingin melihat dan mencari tahu serpihan perjalanan yang mewarnai kota Semarang di gedung ini. Sebagai sebuah gedung tua bersejarah, Lawang Sewu masuk ke dalam bangunan yang harus dilindungi sesuai SK Wali Kota No 650/50/1992.

Bertandang ke Semarang, tak lengkap merasakan nuansa Lawang Sewu, yang menyimpan lebih dari seribu misteri.

Sumber: Majalah Travel Club

Kota Lama Semarang

Ibukota provinsi Jawa Tengah ini juga menyisakan banyak peninggalan masa penjajahan Belanda. Kalau di Jakarta di kenal dengan istilah Kota Tua, semarang pun memiliki sebuah kawasan yang di pagari gedung-gedung bersejarah dengan nama Kawasan Kota Lama atau Outstadt.

Ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dan mempunyai sejarah Kolonialisme seperti Gereja Blenduk, Stasiun Kereta Api Tawang, Gereja Gedangan, Nilmij, Marba, Marabunta dan De Spiegel. Kebanyakan gedung yang ada di kawasan ini masih dimanfaatkan sebagai hotel, rumah tinggal, atau menjadi perkantoran.

Wisata sejarah di kota Semarang akan semakin menarik dengan mengunjungi Lawang Sewu yang terletak di bundaran Tugu Muda. Lawang Sewu merupakan sebuah gedung yang dahulu digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Gedung ini dibangun pada 1904 -1907. Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu), ini disebabkan bangunan tersebut memiliki pintu yang banyak.

Sumber: Majalah Travel Club

Bandungan, “Puncak”-nya Semarang

Aneka bunga segar di Pasar Bandungan

Pulang ke Semarang bagi saya adalah hal biasa. Namun, libur Natal tahun lalu, saya mencoba me-refresh Semarang dan sekitarnya sebagai destinasi liburan, tak sekadar pulang ke rumah orangtua.

Tempat pertama yang dituju adalah Lawang Sewu. Gedung yang pernah terbengkalai tak terawat itu, kali ini tampil dengan sejuta harapan. Kendati ditutup karena sedang perbaikan, tetapi rasa senang melingkupi. Sebab, siapa pun sempat khawatir, gedung bersejarah ini akan rusak tak terawat, untuk selanjutnya dipugar seluruhnya hingga tak menyisakan bentuk aslinya, seperti halnya beberapa gedung di kawasan Kota Lama Semarang, yang sempat musnah tanpa perhatian pemda setempat. Beruntung, kesadaran akan sejarah itu akhirnya timbul, sehingga beberapa bangunan kuno bersejarah dijadikan cagar budaya, seperti halnya Lawang Sewu. Perbaikan gedung berpintu seribu itu, karena gedung yang sering dijadikan lokasi syuting film horor itu akan dijadikan kantor PT Kereta Api Indonesia, Museum Kereta Api, dan kantor biro perjalanan. Dulunya, gedung itu memang menjadi kantor perusahaan kereta api, pada zaman penjajahan, Belanda juga menduduki Kota Semarang, dengan nama gedung Wilhelmina Plein.

Gedung Lawang Sewu, Semarang

Sebuah lokomotif tua pun, sudah menghiasi halaman Lawang Sewu. Sementara itu, yang sangat menggembirakan, dinding gedung sudah cling putih bersih dicat ulang putih, beberapa kusen pintu juga sudah dicat ulang. Sementara itu, lukisan kaca patri warna-warni, yang sejak gedung dibangun pada tahun 1904, juga telah bersih dan semakin indah terlihat. Lantai gedung pun sudah dibersihkan. Beberapa plafon yang rusak pun sudah diganti baru. Singkat kata, Lawang Sewu, bersiap dihuni lagi.

Dari Lawang Sewu, tujuan berikutnya adalah replika kapal Laksamana Cheng Ho, saudagar asal Tiongkok yang mengembara hingga ke Semarang. Replika kapal ini terletak di Jalan Gang Baru. Di jalan ini terdapat lumpia Semarang yang juga kesohor kelezatannya. Orang biasa menyebutnya sebagai Loenpia Gang Baru. Pilihan memakannya, bisa digoreng, bisa tidak. Isian lumpia, berupa irisan rebung muda, ayam, telur, dan udang. Isian ini dimasak dengan bumbu khas yang rasanya gurih dengan sensasi manis, untuk kemudian dibungkus dengan kulit lumpia yang padat lentur dan tipis, dan dimakan dengan dibumbui saus tepung tapioka, acar mentimun, cabai rawit, dan daun bawang.

Replika kapal Laksamana Cheng Ho

Kota Semarang, dari dulu memetakan wisata kuliner yang patut dicoba dan selalu mengundang penasaran. Selain lumpia yang sekarang juga tampil dalam konsep cepat saji dan ala kafe, beberapa penganan legendaris lainnya juga layak dicoba, selain bandeng duri lunak yang dimasak berbagai racikan, tahu gimbal, dan kue moho yang sekarang semakin susah didapat. Berwisata tanpa makan-makan, pastinya tidak asyik.

“Puncak”-nya Semarang

Destinasi berikutnya adalah, kawasan wisata Kecamatan Bandungan yang terletak di Kabupaten Semarang. Kawasan wisata ini bisa disebut, “Puncak”-nya Semarang, karena orang berwisata ke Kecamatan Bandungan memang untuk menikmati udara sejuk nan segar, dan jauh dari keramaian kota.

Lumpia goreng dan basah.

Terletak sekitar 20 kilometer dari Jalan Raya Bawen, kawasan wisata Bandungan, sangat mudah dijangkau. Hanya 50 menit dari pusat Kota Semarang. Sementara itu, dari kawasan atas Kota Semarang, tempat orangtua saya, jarak tempuh hanya 30 menit. Titik-titik kemacetan hanya terdapat di jalur Ungaran-Bawen karena terdapat beberapa pabrik besar, seperti Nissin, Jamu Jago, Coca Cola dan sebagainya. Jadi, bila hendak menuju kawasan wisata ini, pastikan bukan di jam-jam pekerja pabrik.

Kawasan wisata Bandungan, sampai sekarang masih menjadi tujuan untuk melepas penat dan mencari kesegaran. Selain itu, Kecamatan Bandungan juga merupakan sentra bunga, yang siap dipasok ke beberapa kota. Anda harus pagi-pagi berada di Pasar Bandungan yang tak jauh dari lokasi hotel-hotel di kawasan tersebut, bila hendak membeli bunga aneka jenis dan warna, dengan harga murah. Ada lili, casablanca, aster, mawar, sedap malam, dan sebagainya. Semuanya segar-segar karena dipetik dari kebun yang tak jauh dari situ. Senang rasanya berada di tengah bunga-bunga segar beraneka warna, dan wangi, sembari menghirup udara sejuk segar. Hanya saja, bila masih pagi, udaranya masih sangat dingin, rata-rata sekitar 20 derajat celsius.

Akan tetapi, ada banyak penjual makanan hangat dan panas yang tersedia di pasar itu yang bisa mengusir hawa dingin, yang memerangkap Anda. Dari aneka minuman hangat, tempe mendoan, dan tahu goreng, juga bubur ayam dan satai ayam juga kambing, semuanya tersedia pada pagi hari.

Sementara itu, bila Anda ingin berbelanja buah, di pasar ini juga tersedia buah-buahan yang segar, terutama hasil bumi setempat. Desember lalu, Pasar Bandungan dipenuhi buah lengkeng. Jangan salah, itu semua lengkeng lokal, bukan impor dari Thailand. Kecamatan Bandungan, yang lokasinya dekat dengan Desa Jambu Ambarawa memang penghasil lengkeng lokal.

Dulu, lengkeng lokal ini bentuk buahnya sangat kecil dengan daging tipis, namun dengan rasa manis nan kuat. Beruntung, sekarang sudah dikembangkan jenis lengkeng lokal yang daging buahnya mulai menebal dan buahnya juga sudah lebih besar dari sebelumnya, dengan rasa manis yang tak berubah. Sebagai kawasan wisata, selain menyediakan hotel dengan aneka fasilitas, kawasan ini juga memberikan layanan naik kuda keliling dan naik andong, untuk sekadar melihat pemandangan alam.

Tahu Bandungan

Desember tahun lalu, tampaknya menjadi reuni menyenangkan bagi ayah saya, mantan manajer umum di Hotel Nugraha Wisata Bandungan, dan beberapa karyawan di situ yang masih tetap sama, setelah lebih dari sepuluh tahun. Maklum, hotel tersebut memang merekrut karyawan dari penduduk setempat.

Bukan tanpa alasan, hotel tersebut menjadi tujuan liburan. Selain bersih, memiliki kolam renang air hangat, juga lokasinya yang tepat di depan pabrik tahu Serasi, tahu khas yang semua pencinta kuliner menyebutnya sebagai Tahu Bandungan. Sekarang, aneka penjual tahu bisa ditemui di sepanjang jalan, tetapi, teksturnya berbeda dengan Tahu Serasi. Bila Anda ingin penganan murah meriah, sementara penjual Tahu Serasi, belum membuka toko dan pabriknya, Anda bisa menunggu dengan mencicip penganan yang dijual sepanjang jalan kawasan wisata Bandungan. Ada tahu dan tempe yang siap digoreng begitu Anda pesan. [Suara Pembaruan/S Nuke Ernawati]

Perpaduan Alam dan Kisah Legendaris

kera kreoMei lalu, warga Kampung Talunkacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kabupaten Semarang, diberitakan merasa sangat terganggu oleh kehadiran kera-kera penghuni kawasan wisata Gua Kreo yang lokasinya berbatasan dengan kampung mereka.

Bahkan, keresahan warga itu telah disampaikan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Mereka mengajukan permohonan pengurangan jumlah kera ekor panjang (Macata fasicularis) yang sudah menghuni hutan di kawasan Gua Kreo sejak belum ada kampung bernama Talunkacang. Alasan mereka, kera-kera dari kawasan wisata itu sering mencari makan ke permukiman penduduk, merusak tanaman di ladang dan kebun.

Benarkah populasi kera di kawasan Gua Kreo sudah berlebihan? Atau kita yang perlu mawas diri; sebenarnya populasi kera yang mengganggu manusia atau manusia yang telah mengganggu populasi kera? Continue reading Perpaduan Alam dan Kisah Legendaris