Tag Archives: taman nasional

Menikmati Lautan Pasir di Bromo

KEINDAHAN lautan biru bisa Anda jumpai di banyak tempat. Namun keunikan pemandangan berupa lautan pasir seluas 5.250 hektarE hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Bromo Tengger. Taman ini juga merupakan satu-satunya kawasan konversi di Indonesia dan memiliki sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilian.

Kawasan Taman Nasional terletak di 4 Kabupaten yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Selain itu berada pada ketinggian sekitar 2.100m dari permukaan laut dengan keindahan alam yang mempesona dan didominasi oleh pegunungan.

Pada hamparan laut pasirnya, terdapat tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang. Meski mengetahui Gunung Bromo berbahaya, Suku Tengger yang merupakan suku asli penghuni kawasan gunung, tak pernah beranjak dari tempat tinggalnya.

Begitu pula dengan wisatawan yang tak berhenti datang berkunjung. Pemandangan alamnya yang sangat mempesona terlalu sulit untuk diabaikan.

Selain melihat matahari terbit, pengunjung bisa menyaksikan atraksi budaya Suku Tengger dengan segala keunikan kehidupan mereka yang justru menjadi daya pikat tersendiri. Salah satunya adalah upacara kasodo dan karo yang dilakukan besar-besara tiap tahunnya.

Sambil menikmati panorama alam yang menawan, pengunjung juga bisa berkemah dan melakukan pengamatan satwa/tumbuhan. Waktu yang baik untuk berkunjung adalah bulan Juni-Oktober dan bulan Desember-Januari. (wisatamalang.com/*/X-13)

Bertemu Koleksi Satwa Langka di TN Meru Betiri

BILA Anda termasuk pecinta alam, Taman Nasional Meru Betiri bisa menjadi pilihan untuk dijelajahi. Taman ini merupakan perwakilan ekosistem mangrove, hutan rawa, dan hutan hujan dataran rendah di Jawa, serta merupakan habitat tumbuhan langka dan beberapa jenis tumbuhan bakau.

Taman Nasional Meru Betiri berada dalam wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Potensi satwa yang dimilikinya terdiri dari 29 jenis mamalia, dan 180 jenis burung. Kesemuanya dilindungi.

Yang menjadi ciri khas taman adalah keberadaan habitat penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau dan penyu ridel/lekang di Pantai Sukamade. Untuk pengembangan penyu agar mereka tidak punah, dibangun beberapa fasilitas penunjang sederhana di sekitar pantai.

Keberadaan harimau loreng Jawa yang langka juga menjadi satu hal terkenal dari taman. Satwa tersebut sangatlah dilindungi karena tak lagi ditemukan dan diduga sudah punah.

Pantai Rajegwesi termasuk objek wisata yang ada di area taman. Pengunjung bisa melakukan kegiatan seperti wisata bahari, berenang, melakukan pengamatan satwa/tumbuhan dan wisata budaya. Lalu ada Sumbersari, area seluas 192 hektar untuk melihat atraksi satwa seperti sambar, rusa, kijang, dan terdapat laboratorium alam untuk kegiatan penelitian.

Bila ingin melihat penyu yang sedang bertelur, berkemah, berselancar, atau melakukan pengamatan terhadap tumbuhan dan satwa bisa mendatangi Pantai Sukamade. Di sekitarnya tersedia penginapan memadai.

Selama perjalanan ke Sukamade anda bisa menikmati pemandangan perkebunan karet dan kakao yang sangat jarang ditemukan di dunia. Musim kunjungan terbaik ke tempat ini adalah ketika bulan Februari – Juli, setiap tahunnya.(*/X-13)

Taman Way Kambas – Lampung Menengok Atraksi Gajah di Habitat Asli

Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Way Kambas dikenal sebagai tempat pusat pelatihan gajah-gajah Sumatera, tak salah memang karena kawasan ini merupakan pusat latihan gajah pertama di Indonesia.

Awalnya mamalia terbesar di pulau sumatera ini dianggap sebagai hama oleh para petani setempat, namun setelah ditangkap dan dilatih, binatang bertubuh besar ini menjadi hewan bermanfaat, bahkan tak jarang sangat membantu dalam melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga.

Binatang bernama latin Elephans Maximus Sumateranus ini juga menjadi daya tarik tersendiri karena mereka pandai beratraksi seperti bermain sepakbola, gajah-gajah ini juga pandai menari dengan iringan musik jaipongan maupun dangdut.

Kegiatan lain bersama gajah asli pulau sumatera ini adalah safari gajah, aktivitas ini menjadi salah satu atraksi wisata yang banyak digemari wisatawan mancanegara. Dengan kendaraan binatang besar wisatawan diajak berkeliling melintasi semak belukar maupun rawa-rawa dalam kawasan ini. Wisatawan juga dapat menyaksikan bagaimana proses mamalia raksasa ini dilatih. Sungguh perjalanan menyerukan.

Selain gajah, di Taman Nasional Way Kambas juga hidup berbagai jenis satwa liar yang termasuk langka dan dalam kategori binatang dilindungi misalnya saja, Harimau Sumatera (Panthera Sumatrae), Anjing Liar Asia (Cuon Apinus), Tapir (Tapirus Indicus), Badak Sumatera, ada juga enam jenis primata. Ragam Jenis burung ditaman ini mencapai sekitar 286 jenis burung, seperti Bangau putih, Rangkok, Ibis jambul hitam, pecuk ular, raja udang dan lain-lain.

Berdasarkan ekosistem, kawasan ini didominasi Hutan Mangrove, seperti Api-api, Rhizophorasp Nipah. Hutan Rawa, seperti Geam, Nibung, Hutan Pantai seperti Ketapang, Cemara Laut dan Pandan. Hutan daratan rendah, seperti Meranti, Salam, Rawang dan Minyak.

Berdasarkan tipe vegetasi hutan sekunder yang terdiri dari Meranti, Minyak, Sempur, Suren, Puspa, Jabon hingga Rengas. Rawa atau daerah basah, seperti Nibung, Pinang Merah, dan jenis rumput,Tanaman Reboisasi.

Taman nasional yang berada di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur ini cukup mudah di capai, akses jalannya bagus, dari Bandar Lampung perjalanan menuju Way Kambas ditempuh selama 4 jam.

Lokasi:
Jl. Raya Way Jepara Labuan Ratu Lama, Lampung
Telp. (0725) 44220

Sumber: Majalah Travel Club

Taman Nasional Ujung Kulon Banten Melihat Badak dari Dekat

Tak akan pernah habis memang jika membahas kekayaan alam bumi Indonesia, selalu saja ada keunikan dan daya tarik bagi kegiatan wisata alam seperti yang terdapat di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon di Provinsi Banten. Taman nasional ini terdiri dari tiga ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.

Taman Nasional Ujung Kulon menjadi rumah bagi 240 jenis burung, 142 jenis ikan, 72 jenis insekta, 59 jenis reptilia, 35 jenis mamalia, 33 jenis terumbu karang, 22 jenis amfibia, dan 5 jenis primata. Kawasan ini juga menjadi tempat perlindungan bagi badak jawa yang masuk kategori binatang langka.

Selain badak jawa, terdapat pula beberapa binatang dilindungi lainnya yang hidup disini seperti, banteng (Bos Javanicus Javanicus), rusa (Cervus Timorensis Russa), ajag (Cuon Alpinus Javanicus), kima raksasa (Tridacna Gigas), surili (Presbytis Comata Comata), macan tutul (Panthera Pardus), kucing batu (Prionailurus Bengalensis Javanensis), lutung (Trachypithecus Auratus Auratus), dan owa (Hylobates Moloch).

Beberapa obyek wisata yang ada dalam area taman nasional ini antara lain Pulau Peucang, Kondisi alamnya masih terjaga baik menjadikan lokasi ini cocok untuk berenang, menyelam, memancing, snorkeling. Kawasan ini juga merupakan habitat rusa yang dalam bahasa setempat disebut Peucang.

Di Pulau Handeuleum, Cigenter, dan Cihandeuleum menjadi kawasan untuk pengamatan satwa seperti banteng, babi hutan, rusa, dan pengamatan burung, atau bisa juga menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.

tak kalah menarik adalah menyaksikan kearifan lokal masyarakat suku Banten yang tinggal disekitar taman nasional ini, mereka hingga kini masih mempertahankan tradisi dan kebudayaan leluhurnya.

Bukan hanya wisata ekologi dan petualang saja bisa dinikmati, dalam lingkungan taman nasional juga terdapat beberapa tempat yang dikeramatkan. Goa Sanghiang Sirah satu yang paling dikenal gua yang berada di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon ini menjadi tujuan banyak peziarah.

Lokasi:
Jalan Perintis Kemerdekaan No.51
Labuan, Pandeglang 42264
Telp. (0253) 801 731
Faks. (0253) 804 651

Sumber: Majalah Travel Club

Taman Nasional Lorentz

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang luasnya mencapai 2,5 juta hektare atau mencapai 25.000 km dan merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara. Secara administratif pemerintahan, Taman Nasional Lorentz berada pada wilayah Kabupaten Paniai, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Fak-fak dan Kabupaten Merauke, Propinsi Papua, Negara Indonesia.

Sebagian besar dari kawasan Taman Nasional Lorentz masih merupakan hutan perawan yang belum terusik keaslian alamnya, disamping itu Taman Nasional Lorentz terdiri dari lembah-lembah dengan lereng curam dan terjal, dengan ketinggian tempat antara 2.000 sampai 6.000 meter dpl, Puncak Jaya adalah puncak tertinggi.

Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Pasifik. Kawasan Taman Nasional Lorentz merupakan salah-satu diantara tiga kawasan di dunia yang memiliki gletser di daerah tropis, yang membentang dari puncak gunung (5.030 meter dpl) yang diselimuti oleh salju hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.

Taman Nasional Lorentz memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan juga memiliki keanekaragaman budaya yang sangat mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan yang ada dikawasan ini telah berumur 30.000 tahun lamanya dan merupakan tempat kediaman para suku di Papua yaitu suku Dani Barat, Asmat, Amungme, Nduga, dan Sempan.

Diperkirakan masih ada lagi sekelompok suku yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan masyarakat modern.

Pada tahun 1999, kawasan taman nasional ini ditetapkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Situs Warisan Dunia yang memiliki 43 jenis ekosistim dan juga sebagai kawasan daerah tropis yang memiliki gletser.

Taman Nasional Lorentz dapat dicapai dengan melalui beberapa kota, antaralain melalui Timika (Kab. Mimika), Enarotali (Kab. Paniae), Nabire (Kab. Nabire), Wamena (Kab. Jayawijaya), Mulia (Kab. Puncak Jaya), Meroke (Kab. Meroke).

Semua kota-kota yang tersebut diatas dapat dijangkau dengan transportasi udara dari Biak dan Jayapura dengan waktu tempuh antara 1 sampai dengan 2 jam perjalanan.(Sumber:Indonesia-indahnya)

Sumber: DNA Berita

Taman Nasional Gunung Ciremai

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 m dpl.Wisata ini banyak dikunjungi oleh wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

Gunung Ceremai secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53′ 30″ LS dan 108° 24′ 00″ BT, dengan ketinggian 3.078 m di atas permukaan laut.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Kini Gunung Ceremai termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ceremai, yang memiliki luas total sekitar 15.000 hektare.

Nama gunung ini berasal dari kata cereme (Phyllanthus acidus, sejenis tumbuhan perdu berbuah kecil dengan rada masam), namun seringkali disebut Ciremai,

Gunung Ceremai termasuk gunungapi Kuarter aktif, tipe A (yakni, gunungapi magmatik yang masih aktif semenjak tahun 1600), dan berbentuk strato. Gunung ini merupakan gunungapi soliter, yang dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunungapi Jawa Barat bagian timur (yakni deretan Gunung Galunggung, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Patuha hingga Gunung Tangkuban Perahu) yang terletak pada Zona Bandung.

Ceremai merupakan gunung api generasi ketiga. Generasi pertama ialah suatu gunungapi Plistosen yang terletak di sebelah G. Ceremai, sebagai lanjutan vulkanisma Plio-Plistosen di atas batuan Tersier. Vulkanisma generasi kedua adalah Gunung Gegerhalang, yang sebelum runtuh membentuk Kaldera Gegerhalang. Dan vulkanisma generasi ketiga pada kala Holosen berupa G. Ceremai yang tumbuh di sisi utara Kaldera Gegerhalang, yang diperkirakan terjadi pada sekitar 7.000 tahun yang lalu (Situmorang 1991).

Letusan G. Ceremai tercatat sejak 1698 dan terakhir kali terjadi tahun 1937 dengan selang waktu istirahat terpendek 3 tahun dan terpanjang 112 tahun. Tiga letusan 1772, 1775 dan 1805 terjadi di kawah pusat tetapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Letusan uap belerang serta tembusan fumarola baru di dinding kawah pusat terjadi tahun 1917 dan 1924. Pada 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938 terjadi letusan freatik di kawah pusat dan celah radial. Sebaran abu mencapai daerah seluas 52,500 km bujursangkar (Kusumadinata, 1971). Pada tahun 1947, 1955 dan 1973 terjadi gempa tektonik yang melanda daerah baratdaya G. Ciremai, yang diduga berkaitan dengan struktur sesar berarah tenggara – barat laut. Kejadian gempa yang merusak sejumlah bangunan di daerah Maja dan Talaga sebelah barat G. Ceremai terjadi tahun 1990 dan tahun 2001. Getarannya terasa hingga Desa Cilimus di timur G. Ceremai

Gunung Ceremai sering digunakan untuk pandakian, Puncak gunung Cermai dapat dicapai melalui banyak jalur pendakian. Akan tetapi yang populer dan mudah diakses adalah melalui Desa Palutungan dan Desa Linggarjati di Kab. Kuningan, dan Desa Apuy di Kab. Majalengka. Satu lagi jalur pendakian yang jarang digunakan ialah melalui Desa Padabeunghar di perbatasan Kuningan dengan Majalengka di utara. Di kota Kuningan terdapat kelompok pecinta alam “Akar (Aktivitas Anak Rimba)” yang dapat membantu menyediakan berbagai informasi dan pemanduan mengenai pendakian Gunung Ceremai.

Gunung Ceremai merupakan kawasan hutan produksi, banyak terdapat jenis tanaman dan marsatwa , tanaman yang terkenal adalah bunga Adelweis.

Air Terjun Cibeureum Mempercantik Diri, Meramahkan Alam

Pelataran Parkir Cibodas – Gunung Pangrango indah berdiri di pagi hari, di pelataran Cibodas.

Berdentam-dentam rasanya hati bila melihat air terjun ini. Semburat air bertenaga, jatuh menerpa serombongan batu di bawahnya. Sekejap terselip takut, saat kita tepat berada di bawah air jatuhnya. Namun, bulir-bulir embun air yang terbawa angin ke mana saja, seperti memberitakan persahabatan sejati. Aku, sang air terjun perkasa, akan selalu menerima.
Itu makna yang kembali tersirat, saat kaki berkesempatan kembali mengempaskan jejaknya disana minggu lalu. Di lokasi yang terletak di kaki gunung Gede– Pangrango ini, kembali teringat betapa hingga sepuluh tahun terakhir ini tak banyak yang berubah di sana.
Pembukaan jalur masih harus melewati deretan pohon hijau. Meniti undakan-undakan bersahabat. Menikmati segar udara hasil fotosintesa, yang kualitasnya amat jauh berbeda ketika berada di perkotaan. Napaspun masih agak tersengal sedikit. Sekadar mengingatkan bahwa kita berada di kawasan konservasi, yang telah berumur ratusan tahun sekarang. Hingga akhirnya mata ini melihat kembali telaga biru. Lengkap dengan aliran air bersih yang mengalir disebelahnya. Tak banyak yang berubah.
Namun seperti layaknya juga arus globalisasi yang menerpa sekian banyak orang dinegeri ini. Bohong, kalau kita tak perlu berubah untuk menawar hidup bersama alam. Benar saja, tepat setelah telaga biru kini berdiri kukuh kirai jembatan panjang. “Untuk memudahkan wisatawan mencapai daerah air terjun Cibeureum,” ucap seorang penjaga taman nasional yang kebetulan berpapasan.
Kini jalan rawa, tepat sebelum pos Panyangcangan, telah dibuatkan jembatan kayu. Lebih horizontal, ketimbang berlelah mendaki. Ini lebih bersahabat, ketimbang mengotori kaki, karena rembesan rawa yang seingat saya memang kadang mengganggu dibawahnya. Terlihat lebih cantik dan rapi, bersahabat karena memudahkan.
Hal serupa juga kemudian ditemui, ketika makin mendekati air terjun paska pos Panyangcangan. Deretan kayu-kayu yang tersusun rapih, seperti menjadi pintu gerbang. Menuju suasana alam, air terjun “Merah” yang terdengar mengelegak di atas sana.
Di Cibeureum, kini juga terlihat beberapa bangunan baru menghias.
Sebuah altar kayu, berdiri tepat diatas aliran sungai Cikundul. Ada juga sebuah bangunan mirip altar namun lengkap dengan atapnya juga menghias kini. Membuat kita lebih nyaman menikmati alam, tanpa harus kegerahan.
Tempat wisata alam ini tampak dibuat lebih bersahabat kini. Menjauhkan orang-orang dari bayangan sulit menikmatinya. Membuat makin dekat alam, dengan banyak orang. Yang berarti makin banyak orang yang berkesempatan mengenali alamnya. Dan memutuskan mencintanya.

Menuju Lokasi Cibeureum

Tak perlu berdenyut saat kita memutuskan untuk menyambangi air terjun ini. Bila memulai perjalanan dari Jakarta, arahkan saja laju kendaraan menuju kawasan Puncak. Tiba di persimpangan Cibodas, masuklah ke arah daerah Taman Nasional. Parkir kendaraan di pelataran parkir, yang teramat luas di area desa Rarahan, dan kita bisa memulai perjalanan dengan berjalan kaki.
Bila memulai perjalanan dari Bandung. Arahkan mobil anda ke daerah Cianjur. Terus menuju area Puncak. Tiba di simpang Cibodas, setelah Cipanas, lakukan hal serupa seperti yang diungkapkan sebelumnya.

Aula Hijau – Bangunan berbentuk aula terbuka juga kini dibuat untuk menambah nyaman wisatawan yang mengunjungi.

Jangan lupa melapor dulu ke pos PHPA Taman Nasional Gede – Pangrango yang berada di dekat pelataran parkir. Bayar karcis tanda masuk, dan silahkan menikmati indahnya alam. (slg)

Naskah dan Foto: Sulung Prasetyo (Sinar Harapan)

20 Keindahan Bawah Laut Indonesia

Negeri seribu pulau ini begitu eksotis, pesona alamnya mampu menyihir siapa pun. Bukan hanya didarat, keelokan alam Indonesia juga tersaji indah di bawah laut. Jernih air laut, warna-warni terumbu karang yang berpagutan dengan cantiknya ikan-ikan seolah membentuk lukisan hidup.

Mungkin hanya sedikit negara yang memiliki kekayaan jenis terumbu karang dan ikan hias seperti yang ada di Indonesia. Keanekaragaman hayati laut dengan segala keunikannya telah menempatkan taman-taman laut di Indonesia sebagai surganya para penyelam. Tak heran jika menyelam di Indonesia adalah impian para penyelam di dunia.

Edisi kali ini Travel Club mencoba menampilkan sedikit dari begitu banyaknya surga bawah air di Indonesia. Semoga yang sedikit ini bisa memberikan informasi berharga bagi pembaca sekalian. Silakan tentukan tempat mana yang Anda minati.

1. Taman Wisata Laut (TWA) Laut Pulau Weh

Taman laut yang berada di Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang ini dihuni beragam jenis terumbu karang, baik keras (hard coral) maupun karang yang lunak (soft coral), dengan kondisi masih terjaga baik.

Aneka jenis terumbu karang ini menjadi tempat hidup ikan aneka jenis dan warna yang cantik seperti dari jenis Tropet fish, Dunsel fish, Grope fish, Angel fish, Sergeon fish, Parrot fish. Kawasan ini memang diperuntukkan wisatawan menyelam, fasilitas-fasilitas pendukung pun sudah tersedia di sini. Jarak pandang (visibility) mencapai 25 meter.

Lokasi:
Nanggroe Aceh Darussalam

2. Bintan

Salah satu titik menyelam terbaik di Bintan adalah di Pulau Mapur. Terumbu karang di Pulau Mapur terdiri dari terumbu tepi (fringing reefs), terumbu takat (patch reefs) dan dangkalan (shoals) yang tersebar seluas 18 kilometer persegi.

Kelebihan lain lokasi menyelam di sini adalah sinar matahari yang menembus hingga kedalaman, membuat penyelam dapat leluasa menikmati keindahannya. Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan pertengahan 2009, terdapat 103 jenis ikan karang (coral fishes)

Lokasi:
Kepulauan Riau

3. Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki lokasi penyelaman yang layak direkomendasikan. Bagian barat Tanjung Layar Lighthouse, merupakan lokasi menyelam yang berbatu dan terletak dibawah permukaan laut yang tenang.

Terumbu karang memang jarang di sini, tetapi yang menarik adalah ikan barracuda berukuran besar, school of fusiliers, ikan berukuran sedang lainnya dan platoons of bumphead parrotfish.

Lokasi lain adalah Karang Copong, tidak jauh dari Pulau Peucang. Tempat menyelam yang dangkal, terdapat terowongan batu yang mengarah ke gua-gua pulau. Satu lagi yang tak kalah menarik adalah di Karang Jajar. Ditempat ini, banyak terdapat batu-batu besar dari Pulau Penietan. Karang Jajar menawarkan terumbu karang yang berwarna-warni. Hidup pula kura-kura dan ikan pari dalam jumlah yang banyak di area ini.

Lokasi:
Banten

4. Pulau Menjangan

Pulau Menjangan masuk dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat, dengan kontur yang membentuk jurang bawah laut, kawasan ini dianggap sebagai lokasi wall diving terbaik di pulau para dewa. Dengan kondisi perairan yang jernih dan tenang menjadi surga para penyuka fotografi bawah air.

Salah satu daya tariknya adalah terumbu karang Gorgonian Seafen raksasa. Blue-toothed triggerfish, gerombolan Longin Bannerfish, Angel fish, Butterfly fish, gerombolan batfish, ada juga koloni Garden-Eel adalah sedikit dari sekian banyak fauna penghuni Menjangan. Pada kedalaman 35 meter terdapat puing-puing kapal kayu yang menjadi tempat bermain ikan-ikan cantik. Jarak pandang (visibility) 15 meter.

Lokasi:
Bali

5. Wakatobi

Ada sekitar 750 jenis terumbu karang tersebar di taman laut seluas 1,39 juta hektar ini, tak heran jika Wakatobi menjadi surga bagi penyuka olahraga menyelam. Kekayaan jenis ikan juga tersimpan disini seperti Argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), Pogo-pogo (Balistoides Viridescens), Napoleon (Cheilinus Uundulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), Lutjanus Monostigma, Caesio Caerularea dan masih banyak jenis lainnya.

Meski atifitas menyelam dapat dilakukan hampir sepanjang waktu, namun bulan April dan Desember menjadi waktu yang sangat direkomendasikan bagi yang ingin menikmati keindahan Wakatobi.

Lokasi:
Sulawesi Tenggara

6. Gili Trawangan, Air, Meno

Popularitas Desa Gili Indah di Kabupaten Lombok Barat sudah begitu mendunia. Keindahan pantainya membuat banyak wisman terpesona. Ada tiga pulau kecil yang terkenal disini, Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Ketiga gili ini juga terkenal dengan keindahan taman bawah airnya. Salah satu daya tarik bagi penyelam adalah terdapatnya blue coral. Konon, hanya ada dua lokasi yang memiliki karang ini, di Desa Gili dan Karibia.

Terdapat banyak lokasi penyelaman di sekitartiga pulau ini. Ikan yang bisa dijumpai di sini antara lain Tiger Fish, Blue Moon, ikan Kepe-kepe, Lion fish dan ikan Sotong. Jarak pandang (visibility) 5-30 meter.

Lokasi:
Lombok Barat, NTB

7. Kepulauan Seribu

Meskipun kondisi terumbu karang di kawasan Kepulauan Seribu sudah banyak yang terganggu oleh aktivitas manusia, tapi masih banyak tempat penyelaman yang cukup menarik untuk disinggahi. Jenis karang yang ditemukan seperti karang batu, karang kipas, karang daun, dan karang jamur. Karang lunak (soft coral) pun banyak terdapat di sini. Berdasarkan penelitian, dikawasan ini pun terdapat sekitar 267 jenis karang bercabang.

Pulau-pulau yang menjadi tujuan para penyelam adalah Pulau Kotok, Papa Theo, Peniki, Matahari, Gosonglaga, Sepa, Semak Daun. Terdapat sekitar 144 jenis ikan hias yang hidup di sini, antara lain Anemone Fish, Sweetlips Fish, Office Fish, Sonang Rambut, Keletuk Peliding, Gepe Monyong, ada pula moray eel, dan lainnya.

Lokasi:
Jakarta Utara & Banten

8. Karimunjawa

Kepulauan Karimunjawa ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut (TNL) sejak 1988. Terdapat 242 jenis ikan hias mendiami kawasan ini. Terumbu karang yang mengisi taman laut Karimunjawa terdiri dari tipe terumbu karang pantai (fringing reefs), terumbu karang penghalang (barrier reefs), dan beberapa taka (patch reef).

Daya tarik taman laut ini adalah terdapatnya karang merah (tubipora musica) dan karang hitam (antiphates ssp). Jenis karang ini sangat langka dan diduga hampir punah. Terdapat bangkai kapal yang menjadi habitat ikan karang dan menjadi lokasi yang cocok untuk wreck diving.

Lokasi:
Jawa Tengah

9. Nusa Penida

Nusa Penida memiliki kekayaan ikan hias berwarna-warni. Bahkan belum lama ini, para ahli dari Conservation International Indonesia kembali menemukan lima spesies baru di kawasan ini. Kelima spesies itu antara lain Chromic sp, Priolepis 33 sp, Priolepis 11. Sebelumnya terdapat sebanyak 550 spesies ikan karang di sini.

Ada beberapa dive sites di sini. Pelabuhan Penida, Puncak Manta, Batu Meting, Batu Lumbung, Batu Abah, kemudian Toyapakeh, di sini terdapat tiang-tiang koral yang menawan. Kemudian di lokasi Puncak Malibu terdapat terumbu karang abu-abu, reef white tips, dua lokasi ini juga dianggap memiliki pemandangan yang paling indah. Jarak pandang 15 meter.

Lokasi:
Bali

10. Kepulauan Derawan

Sebutan akuarium bawah laut tersemat pada kepulauan ini. Derawan juga dikenal sebagai kerajaan Penyu Hijau. Setiap tahunnya, lebih dari 5.000 penyu betina bersarang di sini. Biodiversitas Kepulauan Derawan menempati urutan kedua setelah Kepulauan Raja Ampat.

Derawan pun memiliki beberapa spesies hewan khas dan dilindungi, seperti, paus, lumba-lumba (Delphinus), penyu hijau (Chelonia Mydas), penyu sisik (Erethmochelys Fimbriata), dan dugong (Dugong Dugon). Ada pula ikan duyung. Di sini pun menjadi tempat hidup manta ray salah satu spesies ikan pari raksasa. Jarak pandang (visibility) mencapai 5-30 meter.

Lokasi:
Kalimantan Timur

11. Sangalaki

Kekhasan taman wisata alam laut ini yaitu adanya terumbu karang yang mengelilingi Pulau Sangalaki. Potensi keanekaragaman sumber daya lautnya sangat luar biasa. Terumbu karang berada dikedalaman 3 meter sampai 10 meter. Jenis karang meja, keras, cabang daun, dan substrat menghiasi kawasan ini.

Ikan yang mendiami antara lain Threadfin Butterflyfish, C. Lunula, C. Rafflesi, tongkol, teri, tenggiri, manyung, napoleon, bendera, dakocan, kakatua biru. Jarak pandang (visibility) 5-25 meter

Lokasi:
Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

12. Bunaken

Keindahan alam bawah airnya telah membawa nama Bunaken terkenal hingga ke mancanegara. Meski termasuk landai, tapi Taman Laut Bunaken kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Terdapat sekitar 58 jenis terumbu karang. Bunaken memiliki 29 titik penyelaman (dive spot).

Taman Laut Bunaken juga kaya akan spesies ikan, antara lain Oci Putih (Seriola Rivoliana), Goropa (Ephinephelus Spilotoceps dan Pseudanthias Hypselosoma), Ila Gasi (Scolopsis Bilineatus), Snapper, Groupers, Baracuda, Napoleon, Angel fish, Blow fish, Blue Ribbon Eels. Bulan Mei dan Juni merupakan saat yang tepat untuk menyelam. Pada bulan ini air laut disini tenang, jarak pandang (visibility) pun cukup jauh, 20-35 meter.

Lokasi:
Sulawesi Utara

13. Kepulauan Selayar

Taman laut seluas 340 hektar ini memiliki karang atol besar. Karang atol yang mencapai luas 220.000 hektar dengan terumbu karang tersebar datar seluas 500 kilometer persegi ini menjadi yang terbesar ketiga setelah karang atol Kwajifein di Kepulauan Marshal dan Suvadiva di Kepulauan Maldives.

Ada sekitar 261 jenis terumbu karang menjadi tempat hidup dari 295 jenis ikan karang. Penyu dari jenis penyu sisik, penyu hijau, dan penyu lekang juga mendiami taman laut ini.

April hingga Juni dan Oktober sampai Desember, adalah waktu yang sangat baik untuk menikmati keindahan alam bawah air Takabonerate. Jarak pandang (visibility) 15-45 meter.

Lokasi:
Sulawesi Selatan

14. Banggai Kepulauan

Terumbu karang yang tersebar di tempat ini masih sangat baik. Terumbu karang yang mengisi kawasan ini terdiri dari tipe barrier reef, atol reef, pringing reef, dan patch reef.

Di sini pun hidup spesies ikan yang masuk kategori langka seperti ikan Napoleon Wrasse dan Cardinal fish Banggai. Berbeda dengan Cardinal fish lainnya. Cardinal fish Banggai memiliki keunikan tersendiri. Ia bertelur, menetas, dan memelihara anaknya melalui mulut. Jarak pandang (visibility) 15-40 meter.

Lokasi:
Sulawesi Selatan

15. Togean

Banyak penyelam dunia menyebut taman bawah air Togean dengan julukkan hidden paradise in Tomini Bay. Ada sekitar 262 jenis terumbu karang dan jenis 555 moluska di sini. Beberapa lokasi penyelaman di antaranya, Taipee Wall dan Coral Garden.

Berbagai macam hard dan soft coral tersaji sempurna di sini. Ikan-ikan hias cantik akan menjadi teman menyelam di lokasi ini, antara lain blue devils, cardinal, pipefish, emperor angel fish, grouper, butterfly, fire darft fish, hawk fish, lion fish.

Lokasi lain adalah di Mini Canyon, Dominique, di lokasi ini hidup beberapa jenis ikan dan hewan lain, seperti Crocodile Fish, Pufer, Sweet Lips, Lobster, Moray Eels, Hum Head. Lokasi ini juga kaya akan soft coralnya. Jarak pandang (visibility) 20-40 meter.

Lokasi:
Sulawesi Tengah

16. Selat Lembeh

Satu lagi lokasi menyelam di Sulawesi utara adalah Selat Lembeh yang berada di Kotamadya Bitung, Propinsi Sulawesi Utara. Lembeh terkenal dengan keanekaragaman invertebrata terutama dari kelompok Echinodermata.

Terumbu karang beraneka warna hidup mesra dengan beragam penghuni laut lainnya, seperti gurita, Banggai Cardinalfish, cumi-cumi, Mandarin fish, lion fish. Sarana-sarana pendukung pun sudah tersedia di sini. Jarak pandang (visibility) 10-25 meter.

Lokasi:
Sulawesi Utara

17. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional yang tengah bersaing dalam pemilihan Tujuh Keajaiban Dunia ini terkenal juga memiliki keanekaragaman hayati alam bawah airnya. tak heran jika Taman Nasional Komodo juga menjadi tujuan banyak para penyelam lokal maupun mancanegara. Sedikitnya terdapat 53 titik lokasi rekreasi menyelam.

Jenis ikan hias dengan berbagai bentuk dan warna menghuni Taman Laut Komodo, seperti Regal Angelfish, Checkerboard Wrasse And Masked Unicornfish, Acripora Corals, Gorgonian Fans and Sponges.

Berdasarkan penelitian The Nature Conservancy tercatat sedikitnya 200 jenis karang keras, dengan 1.000 jenis ikan yang tinggal disini. Jarak pandang (visibility) 5-30 meter.

Lokasi:
Nusa Tenggara

18. Halmahera

Surga lokasi menyelam banyak terdapat di Halmahera Utara. Terdapat sebanyak 49 titik selam yang tersebar di beberapa wilayah seperti di perairan Pulau Doi-Loloda Utara, Pulau Morotai, gugusan pulau-pulau kecil di depan Tobelo sampai ke Galela.

Terumbu karang dengan berbagai jenis dan warna dapat dijumpai di setiap dive site. Jenis-jenis seperti soft coral, hard coral, gorgonion, sea fun berpadu warna dengan aneka jenis ikan hias seperti anemone fish, surgeon fish, unicorn fish, dan angel fish membentuk sebuah lukisan hidup yang menawan. (Visibility) 15-30 meter

Lokasi:
Maluku Utara

19. Kepualauan Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat nirwana bawah air impian para penyelam, kawasan ini digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia. Alamnya masih terjaga dengan baik. Posisinya di kawasan segitiga terumbu karang, tepat pada pusat keragaman terumbu karang dunia, Kepulauan Raja Ampat menjadi kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya. Jenis karang yang hidup disini mencapai 75 persen pesies karang dunia.

Dengan kondisi kekayaan karang yang dimiliki, Raja Ampat juga menjadi kawasan taman laut yang sangat kaya dengan jenis ikannya. Diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini mencapai jumlah 1.074. Pentapodus numberii, adalah salah satu spesies ikan baru yang ditemukan dikawasan ini pada April 2006. jarak pandang (visibility) 10-30 meter

Lokasi:
Papua Barat

20. Pemuteran

Satu lagi lokasi menyelam di Bali Utara tepatnya di Desa, Kecamatan Gerokgak. Sebelumnya kondisi terumbu karang di pemuteran rusak parah akibat banyaknya aktifitas menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak.

Namun sejak tahun 2000 masyarakat setempat dengan para pemilik resor dan dive center kembali menkonservasi terumbu karang dengan menggunakan teknologi biorock. Upaya ini berjalan dengan baik, kini warna-warni terumbu karang sudah dapat kembali dinikmati. Ikan-ikan yang cantik pun sudah kembali berlarian diantara karang-karang yang tak kalah lucu.

Lokasi:
Bali

Sumber: Majalah Travel Club

Bertamasya ke Taman Nasional Berbak, Yuk!

JAMBI–Tahukah Anda, dimana persinggahan migrasi burung-burung asal Australia yang “menepi” saat musim dingin tiba? Ternyata, kawanan ribuan burung itu mencari persinggahan sementara yang hangat di Jambi. Tepatnya, di Taman Nasional Berbak.

“Lokasinya memang sangat tepat bagi ekosistem burung migran. Setiap tahun Taman Nasional Berbak (TNB) selalu dikunjungi ribuan burung migran dari kawasan Asia dan Australia,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Eddy Kadir, di Muarasabak, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Kamis.

Meski begitu, Eddy mengaku meski TNB memiliki ekosistem flora dan fauna yang kaya, hingga kini masih banyak masyarakat yang belum tahu. Menurut Eddy, Taman TNB merupakan kawasan pelestarian alam untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara. Kawasan tersebut dinyatakan masih bersih dan perawan belum terjamah oleh eksploitasi manusia.

Keunikannya, yakni berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir timur Sumatera.

TNB mempunyai luas sekitar 162.700 hektar terdapat didalamnya berbagai jenis tumbuhan diantaranya meranti (Shorea sp), dan berbagai jenis tumbuhan palem. TNB merupakan satu-satunya kawasan yang memiliki paling banyak jenis palem tanaman hias di Indonesia.

Jenis palem tanaman hias yang tergolong langka antara lain jenis daun payung (Johanesteijmannia altifrons) serta jenis yang baru ditemukan yaitu Lepidonia kingii (Lorantaceae) dengan ciri khasnya berbunga besar dengan warna merah/ungu.

Untuk menuju ke lokasi TNB terlebih dahulu harus menelusuri sungai Air Hitam Dalam. Dinamakan Air Hitam Dalam karena warna airnya hitam seperti kopi. Pada waktu air laut surut, kotoran satwa dan daun hutan terbawa air sungai tersebut menuju Sungai Batanghari sehingga airnya berubah menjadi hitam pekat.

Dari Kota Jambi diperlukan waktu selama kurang lebih 15 jam dengan menggunakan speed boat. Rute perjalanan menuju TNB juga akan menjadi pengalaman menarik. Sebab, tidak hanya melewati jalur sungai, perjalanan juga melalui jalur laut yakni laut China Selatan.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Berkunjung ke Surga Alam Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan salah satu andalan wisata petualangan di kabupaten Pandeglang, Banten. Taman ini menjadi habitat dan tempat perlindungan satwa langka yang terancam kepunahannya yaitu badak Jawa (Rhinoceros sundaicus).

Taman ini ditetapkan oleh Unesco sebagai situs warisan dunia. Kawasan ini berada di wilayah seluas 120.551 hektare, terdiri dari Pulau Handeuleum, Pulau Peucang, Pulau Panaitan, Gunung Honje Utara dan Taman Jaya. Kawasan ini dibagi dalam beberapa zona yaitu zona terbuka bagi pengunjung umum dan zona pengembangan sarana dan prasarana, zona rimba sebagai area dengan kegiatan wisata terbatas dan zona tertutup kecuali untuk kegiatan penelitian ilmiah.

Kawasan Ujung Kulon yang berada dl bagian paling barat Pulau Jawa selain dihuni oleh badak Jawa juga dihuni oleh bermacam-macam binatang dan aneka tumbuhan. Kurang lebih 700 jenis flora dapat dijumpai di sini. Kekayaan satwanya terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibi, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan, dan 33 jenis karang.

Yang unik dari kawasan wisata ini adalah terdapat banyak hewan yang tergolong langka dan dilindungi. Salah satu diantaranya yang terpenting adalah badak bercula satu (Rhinoceros sundaicus) yang populasinya hanya sekitar 50 ekor.

Dengan jumlah yang terbatas tersebut dan area habitatnya yang begitu luas tidak mengherankan kalau binatang langka ini tidak mudah ditemukan. Yang ditemukan biasanya hanyalah jejak kakinya saja. Dapat dicatat bahwa badak bercula satu ini hanya terdapat di Ujung Kulon tidak terdapat di daerah lain di dunia ini. Ujung Kulon ditetapkan oleh Pemerintah menjadi taman nasional pada tahun 1972.

Liburan panjang yang lalu Griya Asri bersama peserta lainnya dari Komunitas Jalan Melulu (JM) berwisata ke Ujung Kulon. Berikut adalah laporan singkatnya.

Kami berangkat dari kawasan Blok M, Jakarta langsung menuju desa Sumur sebuah desa pantai di Selatan Labuan. Dari desa Sumur kami menyeberang ke pulau-pulau di Ujung Kulon.

Perjalanan dari Jakarta ke desa Sumur memakan waktu sekitar 6 jam. Kami tiba di desa ini tepat ketika azan subuh berkumandang. Di desa Sumur, perahu nelayan bermotor telah menanti kami. Sekitar pukul 6 pagi perahu kami berlayar. Tempat pertama yang akan dituju adalah pulau Handeuleum. Kira-kira dua jam perjalanan, kami sampai di dermaga pulau Handeulum.

Pulau Handeuleum

Sesampai di Pulau Handeulem kami disambut oleh kelembutan pasir putih yang bersih. Di pulau ini kami dapat menyaksikan berbagai macam hewan dan tumbuhan dan dapat menyusuri sungai Ciganter dengan sampan sambil mengamati hutan bakau. Di pos Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Pulau Handeuleum ini kami dapat menyaksikan berbagai dokumentasi mengenai hewan-hewan yang terdapat di TNUK.

Di pulau Handeuleum terdapat guesthouse, sebuah bangunan peninggalan zaman Belanda yang dibangun tahun 1921. Bangunan ini khas bangunan rumah pegunungan. Di halaman bangunan berkeliaran beberapa ekor rusa yang sudah jinak dan tampak akrab dengan para pengunjung yang baru datang.

Pulau Peucang

Setelah puas melihat-lihat keadaan pulau Handeuleum kami langsung menuju ke Pulau Peucang. Niat kami menelusuri sungai Ciganter untuk melihat badak kami batalkan karena rasanya tidak mungkin akan menemukannya dalam suasana berisik.

Di pulau Peucang inl pengunjung dapat berenang di tepi pantai, menyelam, bersampan sambil mengamati hewan serta tumbuhan. Pantai Pulau Peucang berpasir putih bersih dan halus dengan laut tenang yang berwarna hijau jernih. Begitu jernihnya sehingga ribuan ikan kecil yang sedang berenang terlihat jelas.

Aktivitas berenang dapat dilakukan di sekitar pantai pulau Peucang terutama di samping dermaga di sebelah barat. Pengunjung yang ingin menikmati panorama bawah air dapat melakukan snorkeling dan penyelaman.

Area yang mernarik disekitar pulau Peucang antara lain Citerjun, Legon Madura dan Cihandararusa. Di sini Anda akan disuguhi pemandangan berbagai jenis terumbu karang baik karang lunak maupun karang keras.

Di pulau Peucang ini terdapat penginapan, yang dapat dikatakan cukup mewah. Di sekitar penginapan terdapat monyet-monyet yang bebas berkeliaran. Biasanya monyet-monyet tersebut berkumpul di depan penginapan menunggu makanan sisa tamu penginapan.

Selain itu di pulau Peucang yang hijau dengan pepohonan kita dapat menjumpai aneka binatang lain seperti rusa bertanduk, merak, rusa, babi hutan, monyet, biawak, dan tonggerek.

Di Pulau Peucang kita dapat mengunjungi Karang Copong (bolong). Karang Copong adalah nama sebuah karang mati yang berukuran besar terletak di ujung utara Pulau Peucang. Karang ini memiliki sebuah lubang besar yang menganga tepat di tengah-tengah karang. Lubang ini terbentuk karena karang terkikis terus menerus akibat hempasan ombak dari samudra Hindia.

Perjalanan menuju ke Karang Copong dapat ditempuh dalam waktu 3 jam (pp) dari penginapan kami di Pulau Peucang. Sepanjang perjalanan kami dapat menikmati kerimbunan hutan tropis dataran rendah serta mendengarkan suara aneka binatang.

Dalam perjalanan ke Karang Pocong kita akan menemukan pohon kiara raksasa (pohon jenis fikus), yang hidup dengan cara melilit pohon inangnya. Kiara mengisap makanan dari pohon inangnya. Namun, kiara ini juga memberikan kehidupan bagi berbagai jenis hewan yang bersarang dan mencari makan di pohon ini. Dalam perjalanan ini juga kita dapat mendengarkan “batuk” gunung Krakatau di kejauhan.

Tanjung Layar

Esok paginya kami menuju ke Tanjung Layar untuk melihat mercusuar. Sesampai di dermaga Tanjung Layar perjalanan kami dilanjutkan dengan berjalan kaki menembus hutan selama setengah jam untuk sampai di mercusuar. Mercusuar ini berdiri di atas sebuah bukit yang menjorok ke laut dengan tebing-tebing yang curam. Dari mercusuar kita dapat mengambil gambar suasana selat Sunda dan pemandangan hutan dan memandang ke arah laut.

Setelah puas menikmati pemandangan dari mercusuar, kami turun agak ke bawah. Disini terhampar padang rumput halus yang sering dijadikan pakan banteng. Berkas-berkas runtuhan bangunan dari zaman Belanda masih bisa terlihat.

Di sini kita dapat menikmati gugusan karang yang tegak dihantam ombak, tebing-tebing yang tinggi menjulang, gempuran ombak samudra Hindia dan merasakan hembusan angin laut. Kita juga dapat berkemah di tengah hamparan rerumputan yang hijau. Mercusuar buatan Belanda tersebut sejak tahun 1972 tidak digunakan lagi.

Padang Penggembalaan Cidaon

Sorenya kami mengunjungi padang penggembalaan Cidaon. Dari dermaga, pengunjung dapat berjalan kaki menembus hutan selama 10 menit lalu kemudian kita akan tiba di padang rumput.

Padang Penggembalaan Cidaon seluas 5,5 hektare merupakan hamparan padang rumput yang digunakan oleh banteng untuk melakukan berbagai aktivitasnya, seperti merumput, beristirahat, kawin dan mengasuh anak. Biasanya benteng muncul di padang penggembalaan saat pagi atau sore menjelang matahari terbenam. Selain banteng kadang-kadang dapat dijumpai juga burung merak berkejaran dan memekarkan bulunya.

Disini terdapat pula sebuah menara untuk pengintaian dengan ketinggian sekitar 20 meter. Dari menara ini kalau kita beruntung dapat mengamati ratusan ekor banteng berwarna hitam dan cokelat tengah merumput.

Namu sore itu kami hanya bisa melihat burung merak dari kejauhan sedangkan benteng tidak muncul. Karena penasaran untuk melihat binatang banteng tersebut Gnya Asri naik ke rumah pengintaian dari kayu, sebuah bangunannya seperti menara dengan dua lantai. Namun karena memang lagi apes, sore itu kami tidak melihat seekor banteng pun nongol. Yang terlihat hanyalah beberapa burung merak di kejauhan.

Sumber: Majalah ASRI