Taman Burung TMII Sebuah Oase di Bawah Kubah

Taman Burung TMII
Taman Burung TMII

Anak-anak sekarang tak lagi bisa menikmati betapa akrabnya burung dengan kehidupan. Kecuali dalam buku cerita terbitan lama, dalam nyanyian anak TK, dan di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah. Di puncuk pohon cempaka Burung ketilang bernyanyi Bersiul-siul sepanjang hari Dengan tak jemu-jemu…

Segerombolan anak-anak TK dan SD bernyanyi dan bertepuk tangan di depan sarang burung kutilang, di Taman Burung, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Nyanyian mereka kadang disela sorak-serai. Mereka menyoraki tingkah ketilang yang melompat-lompat lincah. Lagu itu memang pas menggambarkan pembawaan burung ketilang. Burung bertubuh mungil yang lincah, riang dan ceriwis. Ia tak betah diam. Terbang sebentar, menelok sebentar dan terbang lagi. Ketilang memang genit.

Namun, ketilang hanyalah salah satu jenis burung di antara 260 jenis burung Nusantara dan beberapa burung dari luar negeri yang ada di taman burung itu. Taman burung TMII adalah sebuah tempat yang boleh dibilang dekat di mata jauh di hati bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Banyak orang, boleh jadi, tak tahu bahwa nyanyian burung bisa dinikmati di TMII, sebuah tempat wisata yang rasanya ”sering dikunjungi” saking dekatnya, tapi kenyataannya selalu terlewat untuk dikunjungi. Memasuki areal taman burung seluas enam hektar itu cukup membeli tiket Rp 7.000. Suasana menjadi meriah saat berbus-bus murid-murid SD dan TK antri tertib memasuki taman.

Mereka tengah menikmati masa liburan. Mengenakan seragam putih merah dan pramuka, mereka datang dari dalam dan luar Jakarta. Celoteh dan keriangan mereka, membuat suasana sangat meriah. Wajah-wajah kecil itu, tampak menyiratkan kekaguman saat melihat beratus ragam burung di sekelilingnya.

Wajar mereka terkagum-kagum. Karena burung telah lama terbang dari lingkungan sekitar. Orangtua dan guru mungkin akan kelabakan menjawab jika anak-anak bertanya tentang di mana kini burung-burung berdiam? Kejadian ini benar-benar dialami seorang teman. Ia ditanya anaknya, kelas empat SD, yang baru selesai membaca buku cerita lama terbitan Balai Pustaka. Tanyanya, ”Kata cerita di buku ini, burung selalu bernyanyi di pagi hari. Burung membangunkan orang-orang yang sedang tidur. Kala senja, burung-burung terbang berbaris kembali ke sarang. Kenapa saya tak pernah mendengar kicau burung di pagi hari dan tak pernah melihat burung terbang berbaris pulang?”

Anak-anak sekarang memang tak lagi bisa menikmati, betapa akrabnya burung dengan kehidupan — keakraban seperti yang tergambar dalam buku cerita terbitan lama. Kicau burung sebentar lagi barangkali akan tinggal merupakan dongeng dan tinggal berupa nyanyian. Seperti lagu Burung Ketilang dan Burung Kakak Tua yang populer itu. Di taman burung TMII, anak-anak memang bisa menyaksikan ribuan burung hidup riang terjamin. Tapi mereka akan tetap ”menuntut” jawaban, mengapa ia tak lagi menikmati dibangunkan cericit burung? Mengapa cuma bisa melihat di taman ini? Siapakah yang mau menjawab dan bertanggungjawab?

Belajar dan rekreasi

Bangunan utama taman itu adalah sangkar-sangkar yang berbentuk kubah. Ada sembilan kubah yang dibangun menjadi dua kelompok besar. Masing-masing kelompok terdiri dari atas empat dan lima buah kubah yang saling berhubungan. Kubah besar memiliki ukuran 68 m dan tinggi 30 m. Sedangkan kubah terkecil bergaris tengah 20 m dan tingginya 9 m. Dua kubah besar Timur dan Barat dipisahkan sebuah celah, yang menggambarkan selewat bayangan atau disebut Garis Wallace. Garis bayangan ini tergores mulai Kepulauan Sangir (di sebelah utara Sulawesi) ke arah selatan hingga Selat Lombok. Garis ini membelah Indonesia menjadi Timur dan Barat.

Kedua bagian tadi memang memiliki ragam fauna dan flora berbeda. Adanya kubah Timur dan Barat, memudahkan pengunjung untuk mengetahui cermat flora dan fauna yang ada di bagian masing-masing. Kubah Barat berisi flora dan fauna di Indonesia Barat. Kubah Timur menampung fauna dan flora dari tumbuhan di Indonesia Timur. Memasuhi Kubah Barat, nyanyian merdu burung-burung dan kelepak sayap mereka saat terbang, ibarat sebuah ”oase”. Oase di tengah padang beton Jakarta.

Sungguh asing mendengar ratusan burung berkicau. Seperti berada di alam yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ya, serasa berada di dunia dongeng yang mengisahkan tentang persahabatan puteri petani dengan burung-burung. Pepohonan seperti kenari, pisang seribu, jeruk kingkit, ki acret dan gandaria semua terbilang pohon langka tumbuh rindang di situ. Semuanya memberi tempat nyaman bagi burung-burung. Juga menyediakan makanan yang dibutuhkan mereka.

Suasana itu mungkin akan membuat seorang penulis mengekspresikannya dengan kalimat: ”Segalanya mampu menyemaikan perasaan damai tak bertepi…” Atau mungkin, seorang pelukis akan menemukan objek lukisan yang tak putus-putus. Betapa takjub melihat aneka ragam burung yang selama ini cuma tahu nama tak tahu rupa. Dan burung-burung yang baru diketahui nama maupun rupanya. Mungkin dari sekian ratus jenis burung, cuma enol koma enol sekian saja yang populer dikenal rupanya.

Sebut burung dara mahkota, anis, bido, pokasi, flaminggo, atau manyar. Dara mahkota yang berwarna biru terang misalnya, tampak jinak dan bebas berjalan-jalan. Bisa disentuh bila suka. ”Bu, masa ada burung makan daging. Burung Ita di rumah, makanannya biji-bijian,” seru seorang anak TK sambil menyeret ibu gurunya menyaksikan burung elang.

”Sayang ya, daging dikasihkan burung. Mending kita makan,” ujar teman Ita sambil menggerak-gerakan giginya seperti mengunyah sesuatu. Sekecil Ita dulu, anak-anak di kampung sudah tahu elang pemakan daging. Siang hari, sepulang sekolah, mereka sering menyaksikan atraksi menarik, elang menggondol ayam. Bagaimana elang yang mengepakkan sayapnya dengan gagah, secara mendadak dan cepat meluncur ke bawah.

Lantas, jari-jari kakinya yang kokoh, menjepit ayam yang berkeok-keok ketakutan. Dan bagi anak masa lalu, terutama di Jawa, elang adalah simbol burung sadis yang selalu dikaitkan dengan akan datangnya berita duka, kematian. Ibu guru yang masih muda, kemudian menjawab pertanyaan muridnya dengan sabar. Ia cerita tentang adanya beragam jenis burung seperti yang mereka saksikan. Makanannya pun berbeda-beda. ”Burung merak itu, malah suka cabe seperti Ibu,” katanya. Murid-muridnya keheranan menyaksikan merak yang berbulu indah mengembang doyan pedas.

Bagi murid-murid SD, keterangan tentang burung-burung bisa jelas dibaca. Di tiap sangkar, ada identitas burung, lengkap dengan asal dan makanan-makanannya. ”Kami sengaja membawa piknik anak kelas 3 dan 5 SD ke sini. Biar mereka tahu betapa banyaknya jenis burung di Indonesia. Dan melihat burung-burung langka yang dilindungi. Kasihan kan anak-anak cuma tahu burung merpati,” kata Bu Tami Baiyan, ibu guru SD, Malaka Bekasi.

Berekreasi sambil menambah pengetahuan, tampaknya menjadi tujuan guru-guru datang ke sini. Murid-murid sebuah SMP Jakarta malah tampak lebih serius lagi. Dengan buku dan pulpen di tangan, mereka tekun mencatat tugas biologi dari sekolahnya. Sedangkan Iwan dan teman-teman dari SMA 58, memanfaatkan museum TB untuk membuat karya tulis mengenai burung puyuh. Obat stres Burung memang dekat dengan kehidupan anak-anak. Banyak film-film kartun atau dongeng-dongeng yang berkisah tentang burung.

Jadi, tak aneh jika pengunjung TB kebanyakan anak-anak. Beberapa saja orang dewasa yang hadir saat itu. Mereka adalah para guru yang mendampingi murid-muridnya. Padahal, TB layak juga dimasukkan ke dalam rencana wisata keluarga. Bersama kedua orangtuanya, kakak atau adik, anak-anak akan merasa lebih leluasa menikmati dan memuaskan rasa penasaran. Jackie, turis asal Australia, sudah melakukan itu. Ia mengajak putranya, dan David suaminya yang asyik merekam tiga ekor itik raja yang tengah berdiri di batang pohon di tepi danau. ”Mengajak anak tamasya, sekalian mengenalkan anak dengan beragam jenis penghuni alam. Ya, untuk menumbuhkan kecintaan anak pada alam,” tutur Jackie.

Kenyataannya tamasya ke TB tak cuma memuaskan mata dan perasaan. Kenyataan dunia burung pun tak cuma kepak dan kicaunya. Burung memiliki dunia unik menarik. Satu bangsa tapi berbeda-beda kebiasaan. Burung perkutut, misalnya. Burung yang digemari para Raja Jawa zaman dulu ini, dianggap bisa mempengaruhi nasib pemiliknya. Selain itu, ia digemari karena suaranya yang merdu. Burung juga sahabat para petani. Burung manyar misalnya. Burung bertubuh mungil ini penggemar hama serangga. Sayang, makanan utamanya itu kini sering meracuni dan membuat nyawanya melayang. Sejak para petani suka menyemprot padi dengan racun serangga.

Dalam hal membuat ”sarang” burung adalah arsitek yang piawai. Bayangkan, sepasang burung layang-layang memerlukan perjalanan 1.200 kaki untuk membawa lumpur bakal sarang mereka. Sedangkan burung kepodang memerlukan 3,387 serpihan yang disusun untuk membuat konstruksi sarang. Semua itu, mereka bentuk dengan cara mengais, mendorong, meremas dan menekan hingga terbentuk sebuah sarang.

Semua informasi itu, bisa didapat di museum atau perpustakaan taman bunga TMII. Atau cukup memasukkan koin seratus tipis ke dalam boks yang terdapat di beberapa tempat. Setelahnya, tempelkan gagang telepon di telinga, Anda akan mendengar kisah burung tertentu. Dan ini, kicau burung dianggap bisa melonggarkan otot-otot yang tengah tegang. Karenanya, di Jepang sengaja direkam suara-suara burung buat mereka yang ingin melonggarkan otot.

Mereka cukup mendengarnya sambil berbaring di kursi. Tentu saja di ruangan tertutup, bukan di tengah alam bebas. Sungguh mengenaskan jika anak cucu kita mengalami nasib serupa? Mendengar kicau burung yang telah dikemas dalam pita? Semakin siang, TB semakin ramai. Meski mendung di akhir pekan kian pekat menutupi langit. Dan betapa ”gegernya” ketika tiba-tiba hujan turun deras. Pengunjung tunggang langgang mencari peneduh.

Di tempat berteduh saat suara burung harus bertarung dengan hujan, masih ada yang bisa kita dapat. Masukkan uang logam seratus, dan suara anak kecil terdengar mewakili kakak tua: ”Hai teman, aku kakak tua. Paruhku kuat dan tajam. Mampu membelah biji kenari. Itu sebab aku disebut kakak tua raja. Mulutku hitam. Hutan dan padang rumput adalah tempat hidupku. Aku berasal dari Irian. Kebiasaanku bertengger di pohon. Membuat sarang untuk bertelur di lubang pohon. Tapi, hidupku kini terancam. Tolong sampaikan pada teman-temanmu, lindungilah kami…” Tolooong, lindungilah dia.(ida ahdiah/dokumentasi REPUBLIKA/Februari 1993/foto:TMII.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.