Turnamen Mancing Internasional Memburu Tenggiri di Perairan Kupang

turnamen-mancingVisit Indonesia Year (VIY) 2008 yang menargetkan jumlah kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) hingga 7 juta orang, ternyata menggugah semua potensi kepariwisataan di daerah berlomba menyukseskannya. Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Provinsi Nusa Tenggara Timur misalnya, pada 17-20 Oktober lalu kembali mengggelar Turnamen Mancing Internasional 2008 dengan melibatkan banyak peserta dari dalam dan luar negeri.

Turnamen Mancing Internasional 2008 yang dilaksanakan di Markas Polisi Air Daerah Nusa Tenggsara Timur di kawasan Bolok, Kupang itu, seperti diutarakan sejumlah panitianya, sudah digelar rutin sejak 1993. Tidak mengherankan, jika penyelenggaraan tahun ini jumlah pesertanya melebihi target.

“Awalnya kami menargetkan 20 tim. Setiap tim beranggotakan 3 pemancing. Ternyata yang mendaftarkan jadi peserta mencapai 25 tim. Kenyataan ini menggembirakan karena banyak di antara peserta adalah wisatawan mancanegara,” tutur Welly Pah SH, selaku ketua panitia, ketika memberi keterangan pada acara pembukaan turnamen itu, Jumat sore 17 Oktober lalu.

Wisman yang mengikuti lomba mancing Internasional ke-15 kalinya itu, disebutkan Welly Pah, antara lain datang dari Jepang, Korea, Jerman, Amerika Serikat, Australia, Timor Leste dan Portugal. Sisanya datang dari berbagai kota di Jawa Bali dan Nusa Tenggara yang umumnya anggota Formasi (Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia). “Bersama mereka itulah, dengan dibantu sponsor kami menyelenggarakan lomba ini. Sararan utama dari kegiatan ini adalah menyukseskan program Visit Indonesia Year 2008,” ujar Welly Pah lagi.

Mendengar target yang dijadikan sasaran itu adalah menyukseskan VIY 2008, Wakil Gubernur NTT, Esthon L Poenay langsung memberikan aplaus. “Perairan Kupang memang punya potensi besar untuk dijadikan lokasi pemancingan tingkat internasional. Di perairan ini tidak saja banyak tenggiri dan ikan kuwenya, tetapi juga blue marlinnya. Pemda akan memberikan hadiah menarik bagi wisman yang berhasil memenangi turnamen ini,” janji Wagub NTT seraya menambahkan bahwa masih dalam rangka menyukseskan program nasional VIY 2008, NTT tidak saja menggelar lomba mancing tingkat internasional, tetapi dalam waktu dekat akan menggelar pula program Anggur Merah dan Gemala.

Program pembangunan kepariwisataan itu antara lain akan ditandai dengan pengenaan busana tradisional khas NTT bagi seluruh warga NTT. “Program itu akan membuat kota Kupang lebih menarik dari biasanya, Kami yakin, acara itu mampu mendatangkan banyak wisman, karenanya akan kita promosikan,” kata Wagub lagi.

Direktur Pengembangan Produksi Pariwisata pada Ditjen Pengembangan Destinasi Depbudpar, Drs Achyarudin juga ikut gembira mendengar rencana tersebut. “Saya pikir, program Anggur Merah dan Gemala itu akan lebih heboh dan semarak jika Pemprov setempat mengundang Jaya Suprana. Dengan hadirnya Pak Jaya Suprana, pasti program Anggur Merah itu akan masuk MURI. Soalnya, bisa jadi, NTT merupakan daerah pertama yang berhasil mengajak seluruh warganya mengenakan busana tradisional dalam rangka menyukseskan tahun kunjungan Indonesia,” kata Achyarudin.

Beberapa anggota pantia lomba mancing kepada Travel Club yang ikut langsung meliput pemancingan di perairan Kupang itu juga menegaskan bahwa sebenarnya turnamen mancing yang mereka gelar sudah sepantasnya masuk MURI. “Soalnya, kalau di ajang turnamen pemancingan lain, ikan Blue Marlin selalu dijadikan ikan yang paling diburu maka di perairan Kupang ikan Blue Marlin tak boleh diambil lagi. Jadi, jenis ikan yang banyak diburu kali ini adalah Tenggiri dan Kuwe. Ternyata, wisman yang ikut turnamen mancing juga berlomba-lomba memburu ikan tenggiri besar dan kuwe,” jelas Mel Ndau Mau, dari Orari NTT yang ikut jadi panitia turnamen mancing.

Menurut Mel Ndau, pada awal-awal turnamen itu sekitar 15 tahun silam, para pemancing selalu memburu Blue Marlin. Ikan yang memiliki layer lebar dan badan besar itu selalu dijadikan kebanggaan jika berhasil menangkapnya. “Tapi mulai tahun ini tidak boleh lagi ikan itu dipancing. Semakin jarangnya nelayan mendapat ikan itu menandakan populasi Blue Marlin di perairan Kupang makin sedikit. Kita alihkan saja para pemancing memburu tenggiri-tenggiri besar,” tambah Paulus, seorang perwira dari Penerangan Korem Wirasakti, Kupang. Jika ada pemancing yang secara tidak sengaja berhasil memangkap blue marlin, maka ikan itu harus segera dilepas lagi.

turnamen-mancing1Ikan-ikan tenggiri besar dan kuwe yang kemudian diburu pemancing arealnya mencakup perairan luas kawasan Karang Beatriks, perairan Pulau Rote Ndao, Pulau Semau dan sekitarnya. Menurut banyak nelayan tradisional, kawasan pemancingan itu terkenal arusnya deras. Kerap pula nelayan tradisional yang berada di kawasan itu terseret hingga ke perairan Australia. Jenis-jenis ikan yang banyak berkeliaran di perairan itu bukan saja tenggiri dan kuwe tapi juga Blue Marlin, hiu totol dan ikan paus.

Ke perairan itulah wartawan Travel Club dari Jakarta diberi kesempatan meliput bersama kapal KM Viber yang dinakhodai Eltermen Say, 18 Oktober lalu. Kapal bertonase 10 ton itu bertolak dari dermaga Polair Polda NTT pukul 04.00 dini hari.

Dalam udara yang dingin, kapal melaju dengan cepat meski ombak perairan cukup tinggi. Dengan menggunakan kapal itu pula dua wisatawan asal Portugal berhasil memancing ikan tenggiri seberat sekitar 20 kg sekitar pukul 09 pagi di hari pertama turnamen. Sayang sekali, turnamen hari pertama itu tidak bisa berlangsung penuh, karena ketinggian gelombang di perairan Rote Ndao, Kupang bisa mencapai 3-4 meter. Gelombang perairan itu pula yang berulangkali membasahi ruang mesin KM Viber, sehingga menyebabkan 2 ABK itu direpotkan dan harus menimba air yang memenuhi ruang mesin.

Karena kuatir gelombang bisa menenggelamkan kapal-kapal pemancing, Mel Ndau Mau, selaku panitia kemudian. memutuskan kapal-kapal pemancing balik kembali ke dermaga Polair Polda NTT di Bolok, Kupang sekitar 3 jam pelayaran dari perairan Rote Ndao dan Semau. Setiba di lokasi penimbangan ikan di Mapolair NTT, ketahuan, kapal-kapal pemancing lain sudah lebih dulu pulang karena tak berani melaut dibawah tekanan gelombang tinggi yang bisa membahayakan keselamatan pemancing dan kapal.

Hari itu, wisatawan asal Jepang, Matsuo Narimatsu keluar sebagai jawara. Ikan kuwe seberat 32 kg yang dipancingnya di Karang Beatriks merupakan ikan terbesar yang berhasil dipancing pada hari pertama turnamen mancing itu.

Sumber: Majalah Travel Club

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.