Way Kambas Tak Hanya Gajah

peta-way-kambasMendengar nama Way Kambas, memori kita langsung terseret kepada bayangan satwa super besar yang bisa bermain bola. Way Kambas memang terkenal dengan Pusat Pelatihan Gajah (PLG). Di lokasi ini satwa yang gadingnya diincar untuk dijadikan hiasan ini dilatih agar bisa dimanfaatkan keahlian dan kekuatannya oleh manusia. Namun Way Kambas tak hanya gajah.

Way Kambas adalah taman nasional yang punya banyak pesona. Taman Nasional Way Kambas (TNWK)- begitu namanya – terletak di Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Berbagai pesona ditawarkan oleh taman nasional ini. Apalagi kalau Anda penggemar wisata alam. TNWK adalah lokasi yang paling asyik. Kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Lampung Timur ini bisa dibilang cukup lengkap aspek wisatanya. Selain bisa mengunjungi PLG, menyusuri sungai Way Kanan, mengamati burung (birdwatching) sampai melongok kehidupan penangkaran badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) adalah beberapa hal yang bisa Anda dapatkan bila berwisata ke TNWK.

TNWK relatif datar dengan ketinggian 0 sampai 50 meter dari permukaan laut. Topografi yang sedikit bergelombang dapat ditemui di bagian timur kawasan.

Saat musim hujan tiba, bagian lembah daerah ini berisi air.

TNWK termasuk daerah beriklim basah. Musim kemarau antara Juli sampai Oktober relatif kering. Menurut catatan, curah hujan tahunan rata-rata 2159 mm dan 2259 mm. Sedang suhu tahunan rata-rata 26,1 derajat Celsius. Dan klasifikasinya, menurut Schmid dan Ferguson (1951), masuk dalam tipe iklim B dengan curah hujan tahunan antara 2.500 – 3.000 mm.

Sejak 1937, kawasan Way Kambas telah ditetapkan sebagai suka margasatwa. Waktu itu luas yang ditetapkan mencakup 123.500 hektare. Setahun sebelumnya, Mr Rookmaker-lah telah mengusulkan kawasan ini dijadikan suaka margasatwa karena kawasan itu memiliki kekhasan kondisi alam dan potensi floradan faunanya. Letaknya juga cukup strategis. Tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Lampung Tengah dan Selatan.

Karena itu, kawasan ini naik pamor menjadi calon taman nasional berdasarkan keputusan Menteri Pertanian tahun 1978. Akhirnya, pada 1989, lewat SK Menteri Kehutanan tanggal 1 April 1989, Way Kambas resmi menyandang “gelar” taman nasional. Luas yang dikonservasi bertambah menjadi 130.000 ha. Beberapa ekosistem seperti hutan pantai, mangrove, rawa, dan dataran rendah turut menambah daftar kekayaan alam yang dikandung TNWK. Vegetasi hutan pantainya terdiri rumput dan jenis semak. Floranya juga kaya. Sayang, bila dilewatkan begitu saja.

Bila bosan dengan pemandangan alam itu, kita bisa datang ke penangkaran khusus badak Sumatra di Suaka Rhino Sumatra (SRS). Enaknya lagi, lokasi SRS ini tak seberapa jauh dari PLG. Cuma setengah jam berkendaraan lewat jalan berbatu-batu. Namun pengunjung perlu meminta izin dulu ke Yayasan Suaka Rhino Sumatra (YSRS) sebagai pengelola SRS ini. Kantornya ada di Bogor dan Way Jepara.

Bosan mengamati kegiatan gajah dan badak Sumatra, Anda bisa menyempatkan diri untuk birdwatching di sekitar kawasan. Mencoba mengintip aktivitas burung di sela-sela lebatnya belantara Way Kambas. Ada beragam jenis burung yang bisa diamati. Bahkan bukan cuma diamati, Anda bisa sekaligus mengabadikannya. Kuncinya, siapkan peralatan fotografi yang memadai. Di TNWK terdapat lebih kurang 286 jenis dari 548 jenis burung yang hidup di Sumatra. Di antaranya tercatat sebagai burung berkategori langka dan terancam punah.

Lokasi paling enak untuk birdwatching adalah di sekitar Way Kanan. Daerah ini merupakan aliran sungai yang cukup besar. Bagi masyarakat Lampung kata way berarti “sungai”. Jadi ada dua keuntungan yang bisa diraih, mengamati burung sekaligus menyusuri Way Kanan. Di sini, Anda bisa melihat tingkah laku mentok timba (Cairina scutulata). Apalagi saat musim kering tiba (Juni – November) kawanan burung ini terlihat asyik bermain-main dan mencari makan di kolam-kolam dangkal.

Sekitar 20 menit menyusuri Way Kanan, kita akan mencapai Rawa Gajah. Lokasi ini adalah tempat mangkal kawanan gajah. Mereka paling doyan berkubang di daerah lahan basah (wetland) seluas satu hektare ini. Kalau mau mengintip raja udang (Alcedo althis, Halycon synyrnensis ) dan layang-layang (Hirundo tahitica) juga bisa. Bila musim banjir tiba, itu kesempatan bagus untuk mengabadikan bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus) dan kawanan bebek hutan (ducks). Mereka biasanya asyik mencari makan di genangan air yang ada.

Selain itu, masih ada beberapa tempat di sekitar Way Kanan yang enak untuk birdwatching, yaitu Rawa Pasir, Ulung-ulung Satu, dan Dua. Di kawasan tersebut, bisa dijumpai bangau storm (Ciconia storm). Burung berukuran besar (80 cm) ini juga tergolong jenis yang langka. Ia pernah satu kali menghuni Jawa Barat pada tahun 1920.

Kalau mau lihat spesimennya, kita bisa mengunjungi Museum Zoologi Bogor. Sama seperti mentok rimba, perlu perjuangan tersendiri untuk bisa mengamati burung ini. Maklumlah jumlahnya di alam yang makin sedikit. Padahal, ia termasuk burung yang tak terlalu “peduli” dengan kondisi sekitar.

Untuk memudahkan pengunjung, dibangun dermaga sederhana di Way Kanan. Fasilitas lain yang bisa dinikmati, pondok wisata, shelter hingga menara pengintai. Yang jelas, untuk mencapai semua daerah tadi bisa ditempuh dengan jalan kaki lewat jalur setapak menembus kelebatan hutan Way Kambas. Asyik kan?

Kadang-kadang, Anda akan dikejutkan oleh riuhnya teriakan kelompok primata. Mulai dari siamang (Symphalagus syndactylus), owa (Hylobates moloch), lutung (Presbytis cristata), lutung merah (Presbytis rubicunda), kera ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk (Macaca nemestrina). Tak perlu panik, anggap saja sebuah seremonial mereka menyambut para tamu.

Sebelum benar-benar meninggalkan daerah Way Kanan, pastikan Anda sudah melihat jenis burung malam yang punya bukaan mulut luar biasa besar. Wajar saja jika burung itu dinamai paruh kodok (Frogmouth). Di bawah keremangan malam, burung paruh kodok paling jago berburu serangga. Biasanya serangga disambar dari atas tanah atau dipetik dari cabang pohon. Ada tiga jenis yang bisa dijumpai, paruh kodok besar (Batrachostonus auritus), paruh kodok bintang (Batrachostonus stellanus) dan paruh kodok tanduk (Batrachostonus cornutis).

Gajah

gajah-way-kambasBoleh dibilang maskot Way Kambas memang gajah. Mamalia itulah yang lebih dahulu menikmati popularitas di Tanah Air. Gajah yang pandai bersepak bola, ya, di TNWK itulah. Namun gajah itu tak hanya untuk itu. Kita juga bisa memanfaatkan gajah untu keliling-keliling TNWK.

“Keliling PLG, empat ribu (rupiah). Tapi kalau safari ke dalam hutan, satu jam-nya bayar dua puluh lima ribu (rupiah). Silakan mau pilih yang mana,” ajak seorang pawang dari atas punggung gajah tunggangnya.

Menurut Edwin Bangsaratoe, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur, pihaknya juga menawarkan safari malam dengan menunggang gajah. Pengunjung diajak keliling belantara malam-malam sambil menunggang gajah. Soal rasa, wah jangan tanya lagi. Nikmat bercampur dag-dig-dug.

Wisata di TNWK belumlah seramai seperti yang diharapkan. Untuk meningkatkan minat masyarakat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung menggelar Festival Way Kambas. Festival ini sudah diselenggarakan dua kali. Terakhir pada 28-30 Desember 2002 lalu. Festival ini mengambil tempat di PLG.

Festival yang baru digelar dua kali itu selalu mendapat sambutan meriah. Antusias peserta dan pengunjung boleh dibilang nyaris berimbang. Berbagai atraksi bisa dinikmati di sini.

Yang menarik dari festival ini, Lampung menyajikan berbagai jenis budaya asli setempat dan pendatang. Di sini, terlihat jelas kalau akulturasi budaya kaum pendatang telah masuk begitu dalam. Sebagian peserta selalu menampilkan budaya Jawa dan Bali di tengah budaya asli Lampung.

Coba saja lihat peserta dari kecamatan Sukadana dan Metro Gibang. Mereka dengan bangga menampilkan kesenian Reog Ponorogo, lengkap dengan pakaian adat khas daerah Jawa Timuran. Atau Kecamatan Mengotiga dan Pasir Sakti yang membawa rombongan penari Bali. Melihat itu, rasanya kita seperti hidup di daerah Jawa atau Bali saja.

Di bagian Barat tak jauh dari pintu masuk PLG Anda bisa mendapatkan beberapa sovenir dan makanan khas Lampung seperti kain tapis dan kerupuk kemplang. Untuk sebuah kopiah yang bersulam tapis, bisa dibawa pulang dengan harga Rp 20-25 ribu.

Cendol

Beberapa meja diisi oleh penganan hasil karya ibu-ibu PKK Lampung Timur. Di salah satu meja, Anda dapat menikmati cendol temu ireng buatan PKK desa Trisno Mulyo Kecamatan Batanghari Nuban. Rasanya cukup segar dinikmati pas Anda kelelahan setelah keliling PLG.

Menurut Ibu Lasmi Ningsih ketua PKK Desa Trisno Mulyo, cendol temu ireng ini adalah hasil industri rumah ibu-ibu di desa itu. Dan cendol itu menjadi kebanggaan warga desa di sana. Maklum saja, gara-gara cendol ini nama Desa Trisnomulyo sempat terangkat ke tingkat nasional. “Tahun 1996, kami juara nasional lomba, Usaha Peningkatan Gizi Keluarga (UPGK),” cerita Ibu Lasmi dengan bangga.

Cendol temu ireng terbuat dari sagu temu ireng. Untuk mendapat sagu ini, kata Ibu Lasmi, caranya tak mudah. Sebab kita harus punya empon (umbi) temu ireng yang sudah tua. “Biasanya umbi tua ini dipetik pada musim kemarau. Sepuluh kilogram umbi cuma menghasilkan sagu sekitar satu kilo saja,” ujar Ibu Lasmi ramah.

Di Desa Trisnomulyo, warga masyarakat telah terbiasa menanam tanaman temu ireng di pekarangan. Oleh PKK, umbi temu ireng dibeli dengan harga 250 rupiah per kilo. Sayangnya, cendol lezat ini kurang promosi. Dan itu disadari betul oleh para pengurus PKK. “Ya, kalau di Bandar Lampung dan Lampung Tengah kami memang sudah terkenal tapi kalau daerah lain belum. Habis, ya itu, tadi bahan bakunya yang kadang-kadang sulit didapat,” sebut Ibu Lasmi.

Puas menikmati aneka jajanan, kita bisa melihat beragam hiburan gratis. Dari gelaran tari tradisional, lagu-lagu daerah, musik dangdut dan tayuban tak ketinggalan atraksi gajah, seperti renang gajah.

Walau mendapat sambutan hangat dari warga lokal dan sejumlah wisatawan nusantara, festival ini tak urung menuai kritik. Ada beberapa hal yang sepertinya luput dari perhatian panitia. Contoh paling gampang, soal sampah.

Pemandangan sekeliling areal PLG tiba-tiba berubah menjadi bak sampah yang luas. Pasalnya, di areal 400 hektare itu hanya ada segelintir tempat sampah. Selain merusak pemandangan, sampah yang berceceran akan membawa dampak buruk bagi kehidupan satwa yang ada di PLG. Ingat, PLG masih termasuk wilayah TNWK, sebuah kawasan konservasi yang harus dijaga dan dilindungi kelestariannya.

Hal lain yang sangat mengganggu mata adalah pedagang kaki lima yang bebas membuka stan dadakan di sembarang tempat. Hampir setiap sudut lokasi festival dipenuhi pedagang kaki lima hingga lokasi festival tak ayal hanya menjadi layaknya pasar malam saja. Sayangnya, kondisi itu didiamkan oleh pihak penyelenggara.

Rute

Ada beberapa rute yang dapat Anda pilih bila berangkat ke TNWK. Bisa dengan pesawat terbang atau dengan bermotor. Jika Anda memilih menggunakan pesawat terbang dari Jakarta, mau tak mau Anda harus mencarter taksi dari bandara ke TNWK. Perjalanan itu akan memakan waktu sekitar 1,5 jam jika perjalanan lancar.

Jika menggunakan kendaraan umum, dari Jakarta pilihlah bus jurusan Pelabuhan Merak dari Terminal Kampung Rambutan atau bus jurusan Cirebon-Merak yang sering mangkal di perempatan Slipi, Jakarta Barat. Kalau naik bus ekonomi, ongkosnya hanya Rp 10 – 15.000. Tapi risikonya Anda bisa dioper ke bus lain sebelum tiba di tujuan. Lebih baik memilih bus yang memakai pendingin. Agak mahal, tapi soal kenyamanan bolehlah diacungi jempol.

Tiba di Merak, ada dua pilihan menyeberang Selat Sunda. Pakai kapal cepat atau kapal ro-ro (roll on roll off). Disarankan, lebih baik menumpang kapal cepat. Ini berguna agar tak kemalaman di tengah perjalanan. Tiket kapal cepat Rp 20.000 per kepala. Sekitar lima belas menit saja Anda diombang-ambing gelombang Selat Sunda, lalu sampai di Bakaheuni. Untuk kapal ro-ro Anda harus merogok kocek sebesar Rp 5.000 per orang. Namun, Anda harus menyeberang selama 3 sampai 4 jam.

Rute berikutnya, Bakaheuni – Way Jepara dengan menumpang taksi, mobil niaga sejenis Suzuki Carry. Cukup bayar Rp 12.500, Anda akan tiba di Way Jepara dalam tempo tiga jam. Jarak antara kedua kota tadi sekitar 110 kilometer. Selama menuju Way Jepara kita akan disuguhi pemandangan pura bergaya arsitektur Bali. Rasanya seperti di Pulau Dewata saja, begitu komentar seorang rekan. Selain itu, banyak perkebunan pisang di kiri-kanan jalan. Pisang-pisang inilah yang membanjiri pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

Dari Way Jepara perjalanan diteruskan menuju Tridatu dengan menambah ongkos Rp 2.500. Dari sini, dilanjutkan dengan ojek motor menuju Plang Ijo. Inilah pintu masuk kawasan TNWK. Ongkosnya, Rp. 5.000 per orang. Tapi lebih baik carter taksi dari Bakaheuni, langsung tancap gas ke Plang Ijo. Selain lebih aman dan nyaman, waktu pun banyak dihemat. Harga carteran Rp. 150.000. Bila Anda berwisata dalam rombongan kecil (5 – 6 orang), apa salahnya cara itu dicoba.

Tertarik ke TNWK? Lekas kemas bawaan Anda dan persiapkan diri untuk bertualang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *