Home » Banten

Wisata Ziarah di Reruntuhan Kerajaan Banten Bersimpuh Sambil Mengharap Berkah

5 August 2010 Banten 7,416 views One CommentPrint This Post PRINTEmail This Post EMAIL

BANTEN — Dwi (28) bersimpuh di depan makam Sultan Hasanudin yang terletak di sebelah utara Masjid Agung Banten di Desa Banten, 10 kilometer sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten. Mulutnya komat-kamit membaca doa secara cepat dan mimik wajahnya terlihat penuh pengharapan.
“Setiap hari Jumat saya ke sini, sekadar berziarah kepada para leluhur dan mencari berkah. Sebulan sekali pada malam Jumat saya tidur di masjid ini untuk membaca doa-doa, wirid, atau membaca Al-Quran,” kata Dwi yang lahir di Yogyakarta dan sudah tujuh tahun tinggal di Kota Serang.
Biasanya sepulang dari berziarah, Dwi membawa air putih dalam botol kemasan air mineral. Air ini sengaja diletakkan di dekat makam raja ketika dia berwirid atau membaca Al-Quran. Air ini diyakini telah diberkati. “Airnya saya percikkan ke sekitar tempat saya berdagang. Ini sudah kebiasaan saya,” katanya.
Dwi tidak sendirian. Setiap tahun tercatat 12-13 juta orang berdatangan ke kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan Islam Banten yang jaya pada abad ke-12. Mereka datang dari berbagai daerah, baik dari luar maupun dari Banten sendiri. Kedatangan mereka selain untuk berwisata, juga untuk mendapat berkah di petilasan kerajaan ini.
Sultan Hasanudin merupakan raja pertama yang memimpin Kerajaan Islam Banten setelah didirikan oleh ayahnya, Syarif Hidayatullah yang kemudian berdiam di Gunung Jati, Cirebon. Gelar yang dipangku saat itu adalah Panembahan Maulana Hasanudin.
Kota kerajaan yang semula di Banten Girang dipindahkan ke dekat muara Sungai Cibanten yang kemudian dikenal dengan nama Banten. Pemindahan ibu kota ini setelah Pucuk Umun (Raja Banten) ditaklukkan dan daerahnya diislamkan.
Kejayaan kerajaan ini terbukti dengan semakin berkembangnya niaga antara negara dan pesatnya perkembangan pelabuhan. Tercatat bangsa yang berniaga itu adalah Inggris, Spanyol, Portugis, Arab, Melayu, Gujarat, Persia, Cina, dan bangsa-bangsa lainnya. Kejayaan pelabuhan ini menggeser ketenaran Sunda Kelapa (Jakarta).
Namun Belanda menghancurkan kerajaan ini setelah terjadi perpecahan pada pewarisnya. Belanda berhasil meyakinkan Sultan Haji untuk menyerahkan ayahnya, Sultan Agung Tirtayasa ke Belanda untuk dipenjara dan diasingkan. Belanda pun memindahkan kota ke Kota Serang yang hingga saat ini masih berdiri.
Kini reruntuhan keraton ini berserakan di atas tanah seluas 3,5 hektare di Desa Banten. Hanya Masjid Agung yang utuh dan telah direnovasi berulang-ulang. Bangunan-bangunan di kawasan kerajaan ini nyaris rata dengan tanah. Sisa-sisa keraton ini yang kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berziarah yang diyakini mendatangkan keberkahan bagi yang mempercainya.
Makam Raja-raja
Sejak dari Kota Serang menuju Banten sebenarnya wisata ziarah sudah bisa dimulai. Sepanjang jalan itu terdapat makam-makam raja dan pembesar kerajaan yang terkenal namanya, karena kebajikan maupun kepahlawanannya melawan penjajahan.
Misalnya, Maulana Yusuf yang terkenal dalam penyebaran agama Islam, serta Pangeran Arya Mandalika. Makam itu disertai dengan fasilitas parkir, kolam untuk wudhu, MCK, dan sebagainya.
Mendekati lokasi Masjid Agung Banten terdapat reruntuhan Keraton Kaibon yang kini sudah dipagar. Keraton Kaibon dibangun setelah berdirinya Keraton Surosowan yang merupakan keraton utama, tempat raja menjalankan pemerintahannya. Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna. Sedangkan Keraton Kaibon dibangun untuk dipersembahkan kepada ibunda raja tercinta.
Keraton Surosowan merupakan pusat reruntuhan kerajaan yang kini tinggal tembok tinggi, pondasi-pondasi dan bagian-bagian kecil yang tersisa. Di sebelah selatan, terdapat sebuah kanal yang menghubungkan antara Tasikardi dengan keraton. Tasikardi merupakan tempat pengolahan air bersih yang dipasok ke kerajaan. Sedangkan di sebelah utara terdapat masjid agung dan sebuah museum yang memajangkan berbagai benda pusaka.
“Dulu, kapal-kapal perniagaan bisa merapat ke dekat keraton ini dan menyusuri Sungai Cibanten hingga ke Girang (daerah hulu yang sekarang dikenal Banten Girang di Kota Serang). Sekarang semuanya sudah tertutup, bahkan pembuatan Pelabuhan Karanghantu justru telah merusak tapak kerajaan,” kata Fatul Adhzim, pemimpin pesantren yang masih keturunan bangsawan Kerajaan Banten.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menyediakan terminal dan lapangan parkir cukup luas untuk kendaraan wisatawan. Dari parkir ini, dibuat jalan paving block untuk berjalan kaki menuju Masjid Agung dan makam Sultan Hasanudin. Sayangnya, lapangan parkir dan pinggir jalan itu dipenuhi berbagai pedagang mulai dari penjual kopiah, kemenyan, penganan hingga buah-buahan. Kondisi ini ditingkahi para pengemis yang masih anak-anak yang setia mengikuti pengunjung sebelum diberi uang recehan.
Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta. Keduanya merupakan hadiah dari Portugis dan digunakan untuk menjaga pantai. Konon, siapa yang sudah merangkul kedua meriam itu akan hidup bahagia dan serasi dengan pasangan hidupnya. Sedangkan bagi yang belum berkeluarga, keberanian dan kegarangan Si Jagur akan menular kepadanya.
Si Jagur ditempatkan di depan halaman Museum yang dibangun pemerintah pusat. Di museum itu dipajang penemuan hasil penggalian para arkeolog mulai dari gerabah, persolen cina, mata uang Banten, persenjataan hingga baju-baju kerajaan.
Menara Masjid Banten kini menjadi lambang bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Menara ini biasa dinaiki pengunjung. Di atasnya, bisa melihat laut sebelah utara dan pulau-pulau kecil, pelabuhan, serta perkampungan di sekitar reruntuhan kerajaan. Pada sore hari, pemandangannya sangat menakjubkan.
Sebelum berziarah ke makam raja, jangan lupa membeli air mineral untuk meangkap berkah doa-doa. Pulangnya. Jangan lupa pula, menyiapkan recehan karena akan diserbu pengemis anak-anak yang merengek dan mengikuti Anda. Sekali Anda memberi recehan, pengemis lain akan mengerubuti Anda.

Oleh Iman Nur Rosyadi [Sinar Harapan]

Be Sociable, Share!


Artikel Terkait:

  • Menapaki Hikayat Kesultanan Banten
    [ Tuesday, 9 Nov 2010 - 21 : 14 | 0 comments | 6754 views ]
    Jejak kejayaan Kesultanan Banten masih bisa disaksikan, meski tinggal bangunan-bangunan tak utuh lagi di Situs Banten Lama. Dahulu kala, di Kota Serang, Ibukota Provinsi Banten sekarang, pernah berdiri sebuah kerajaan Islam yang mengalami zaman keemasan antara abad ke-16 hingga abad ke-19...
  • Masjid Merah Sang Cipta Rasa Cirebon – Jawa Barat
    [ Sunday, 21 Aug 2011 - 8 : 16 | 0 comments | 4075 views ]
    Cirebon merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Barat yang kaya akan destinasi sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam. Kisah para wali terpartri di kota ini. Mulai dari komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah...
  • Makam Imogiri
    [ Thursday, 24 Sep 2009 - 13 : 57 | 1 comments | 7632 views ]
    Makam Imogiri Makam Imogiri sebenarnya Makam Hastarengga, dan merupakan makam yang lebih muda usianya dibandingkan dengan makam Kotagede. Di Makam Imogiri ini, dimakamkan Raja-raja yang memerintah Kerajaan mataram sepeningga Panembahan Senopati, terutama putra Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Makam ini dibangun di atas...
  • Keraton Kasepuhan Cirebon
    [ Sunday, 1 Mar 2009 - 10 : 58 | 4 comments | 21462 views ]
    Keraton Kasepuhan Cirebon Keraton Kasepuhan Cirebon Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon.Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton...
  • Ayo Melihat Koleksi Keraton Sumenep di Museum
    [ Tuesday, 3 Jan 2012 - 7 : 47 | 0 comments | 2484 views ]
    DI Jalan Dr. Sutomo, Sumenep atau tepatnya di belakang Keraton Sumenep terdapat sebuah museum yang menyimpan beragam peninggalan bersejarah para bangsawan Sumenep. Koleksi yang tersimpan di antaranya adalah kereta keraton buatan abad ke-18, keramik dari Dinasti Ming, naskah kuno, peralatan pertanian...


Error. Page cannot be displayed. Please contact your service provider for more details. (19)



One Comment »

  1. Mohon maaf sebelumnya, bila koreksi saya ini menyinggung hati penulis yaitu Bpk.Iman Nur Rosyadi. “Wisata Sejarah Di Reruntuhan Kerajaan Banten Bersimpuh Sambil Mengharap Berkah”.

    1. Pemerintahan di Banten dahulu adalah berbentuk “Kesultanan” (Islam) bukan “Kerajaan”, sehingga sampai sekarang di Banten dikenal dengan Peninggalan “Kesultanan” Banten.
    Dilihat dari sebutan kepala pemerintahannyapun misalkan : Sultan Maulana Hasanuddin, Sultan Maulana Yusuf, Sultan Abumafakhir Abdulqodir, Sultan Ageng Tirtayasa dll.. tetapi tidak ada yg menuliskan : Raja Hasanuddin, Raja Tirtayasa dll.

    2. Dituliskan bahwa : “..Pembangunan kedua keraton itu dibantu arsitek Portugis bernama Cordel yang dianugerahi gelar Tubagus (Tb) Wiraguna.
    Setahu saya, ahli bangunan ini Berasal Nederland bukan dari Portugis. Nama lengkapnya Tn.Hendrix Lucas Cardeel.

    3. Dituliskan bahwa : “Sekitar 300 meter dari lokasi parkir, tampak meriam Si Jagur yang unik karena di bagian penyulut sumbunya berhiaskan kepalan tangan yang jari jempolnya diselipkan di antara jari telunjuk dan jari tengah. Meriam Si Jagur diyakini berpasangan dengan meriam Si Amuk yang kini berada di Jakarta…”
    Setahu saya, Meriam yang ada di Banten bukanlah “si Jagur” tetapi Meriam “Nyi Amuk” dengan ciri2 yg sangat berbeda dengan ciri Meriam “si Jagur” yg dari dahulu berada di Jayakarta / Jakarta.
    Meriam “Nyi Amuk” (dianggap Meriam Perempuan)di Banten ini menurut kepercayaan masyarakat setempat, berpasangan dgn Meriam “si Jagur” (dianggap Meriam Lelaki) yg ditempatkan di Depan Muzeum Fatahilah Jakarta.
    Demikianlah 3 hal itu sja yg sedikit saya koreksi agar kita semua mendapatka informasi yg benar. Mudah2an semua ini bermanfaat untuk kita semua.
    Wassalam. Praptopo- Tanjung Pinang – Kepri.

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>