Menyapa Senja di Waikiki

Keindahan pantai di Hawaii menyedot jutaan wisatawan setiap tahunnya

Belum lengkap rasanya berwisata ke Hawaii tanpa singgah ke Waikiki. Ombak yang mengempas pantai berpasir putih serta laut biru yang tenang, membuat para wisatawan betah berlama-lama di Waikiki. Sejak era 1950-an, pantai ini sudah menjadi tujuan wisata yang paling populer di Hawaii, atau bahkan mungkin juga di seantero dunia. Mulai dari para peselancar hingga mereka yang sekadar ingin berjemur atau berjalan-jalan menyusuri keindahan pantai, seakan tak pernah bosan menjejakkan kaki ke Waikiki.

Kesempatan singgah ke pantai paling ternama di Pulau Oahu ini tentu tak boleh disia-siakan. Bagi kami, di Waikiki itulah keautentikan tradisi asli Hawaii bisa dinikmati.

Kepenatan karena padatnya program bagi para peserta Fall 2009 Jefferson Fellowships di East West Center (EWC) tak lagi terasa ketika air laut menari-nari di sekitar mata kaki. Cahaya senja indah menyapu laut yang hijau kebiru-biruan.

Ulupo Heiau, bukti peninggalan purba bangsa Polynesia

Kemeriahan suasana di Waikiki justru kian terasa ketika malam menjelang. Alunan musik khas Hawaiian terdengar lembut melantun mengiringi gemulai gerakan para penari hula (halau hula) yang cantik belia. Satu jam pertunjukan hula digelar empat kali seminggu di Kuhio Beach Hula Mound, persis di dekat patung Duke Kahanamoku, di tepi pantai yang berada di antara Uluniu dan Kalakaua Avenue di Waikiki. Meski singkat, setidaknya pertunjukan itu mampu membuat orang meresapi eksotisnya tradisi Hawaiian yang selama berabad-abad tetap utuh terjaga. Fantastik!

Menyusuri Waikiki niscaya tak akan pernah membosankan. Sebab, bukan hanya menawarkan keindahan pantainya, Waikiki juga surga bagi wisatawan yang doyan belanja. Deretan restoran dan toko berjajar rapi di sepanjang jalanan utama Waikiki, mulai dari butik barang-barang merek ternama hingga toko yang menjual produk lokal. Berbagai cendera mata karya para perajin tradisional serta makanan khas Hawai tersedia lengkap di International Marketplace. Pasar yang terletak di Kalakaua Avenue ini tidak berapa jauh dari Waikiki Town Center. Kacang Macadamia adalah produk asli Hawaii yang wajib dicicipi. Harganya, tentu sedikit lebih mahal di Waikiki jika dibandingkan pasar tradisional. Namun, kepuasan menikmati malam di Waikiki yang diselingi perburuan pernak-pernik khas Hawaii, sungguh pengalaman luar biasa yang tak bisa tergantikan.

Pendatang Polynesia

Patung Kamehameha I, raja Hawai yang pertama, menaklukkan O'ahu dalam Perang Nu'uanu yang meletup di Nu'uanu Pali. Ia memindahkan istana kerajaannya dari Pulau Hawai ke Waikiki pada 1804.

Tidak diketahui kapan persisnya Honolulu pertama kali didiami oleh para migran Polynesia awal yang datang ke Kepulauan Hawaii. Ada delapan pulau di kepulauan ini, yakni Ni’ihau, Kaua’i, O’ahu, Maui, Moloka’i, Lana’i, Kaho’olawe, serta Pulau Besar Hawaii. Kemungkinan besar Hawaii sudah didiami bangsa Polynesia sejak berabad silam.

Batu-batu pemujaan bagi arwah nenek moyang yang masih tersisa setidaknya memberikan gambaran, masyarakat Polynesia ketika itu masih penganut animisme. Kepercayaan ini berangsur ditinggalkan sejak kedatangan para misionaris. Tetapi, peninggalan purbakala tetap dilestarikan oleh pemerintah negara bagian Hawaii sebagai situs bersejarah, seperti Ulupo Heiau serta situs lainnya.

Sejarah lisan serta berbagai artefak memperlihatkan, sudah ada permukiman berdiri sejak abad ke-12 di lokasi Honolulu saat ini berada. Tetapi, kepemimpinan pertama di Hawaii yang berhasil menyatukan berbagai suku baru muncul pada abad ke-19, di bawah kekuasaan Kamehameha I. “Ia mampu tampil sebagai pemersatu. Di sisi lain, kepemimpinan Kamehameha I sendiri tidak pernah sepi dari pergolakan,” tutur Derek Ferrar, Media Relations Specialist dari East West Center, yang menemani kami berkeliling kepulauan kaya gunung berapi tersebut.

Setelah menaklukkan O’ahu dalam Perang Nu’uanu yang meletup di Nu’uanu Pali, ia memindahkan istana kerajaannya dari Pulau Hawai’i ke Waikiki pada 1804. Istana kemudian direlokasi oleh raja Hawaii pertama itu pada 1809 ke sebuah lokasi yang kini menjadi pusat Kota Honolulu.

Modernisasi

Peradaban modern Hawaii baru muncul setelah kedatangan orang-orang Barat. Kapten William Brown dari Inggris adalah orang asing pertama yang pada 1794 mendarat ke lokasi yang kini dikenal sebagai Honolulu Harbor. Keberadaan kapal-kapal asing yang terus berdatangan membuat Pelabuhan Honolulu menjadi titik penting bagi kapal-kapal dagang yang beperjalanan melintasi Amerika Utara dan Asia.

Ibu kota permanen Kerajaan Hawaii yang semula terletak di Lahaina, Pulau Maui, dipindahkan Kamehameha III ke Honolulu pada 1845. Honolulu, yang terletak di Pulau Oahu, diubah menjadi sebuah ibukota yang modern, baik oleh Kamehameha III maupun raja-raja yang berkuasa sesudahnya. Sejumlah bangunan megah dibangun mulai dari Katedral St.Andrew, Istana ‘Iolani dan Ali’iolani Hale. Honolulu akhirnya menjelma menjadi pusat perdagangan di Kepulauan Hawaii. Perekonomian kawasan semakin berkembang pesat setelah keturunan para misionaris Amerika membangun bisnis-bisnis utama di pusat Kota Honolulu.

Pergolakan kembali mewarnai perjalanan sejarah Hawaii sepanjang akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Setelah tumbangnya monarki Hawai, kepulauan ini dianeksasi oleh Amerika Serikat meskipun baru resmi dijadikan negara bagian AS pada 21 Agustus 1959.

Serangan Jepang ke Pearl Harbor pada Perang Dunia II jadi sepenggal sejarah kelam yang terus dikenang hingga kini. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kehancuran itu. Bangkai kapal dibiarkan teronggok di dasar laut. Ribuan nama korban tewas dicatat rapi di dinding dalam USS Arizona Memorial. Seakan ada keinginan AS untuk membangun kesadaran di benak para wisatawan bahwa penjatuhan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki yang efektif menyudahi PD II adalah balasan setara Amerika atas kebiadaban Jepang di Pearl Harbor.

Pergolakan boleh saja terjadi. Tetapi, Hawaii tak pernah beranjak menebar pesonanya. Honolulu tetap menjadi ibu kota, sekaligus kota terbesar di Kepulauan Hawaii yang memikat untuk disinggahi. [Suara Pembaruan/Elly Burhaini Faizal]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *