Menyusur Lava, Menggali Legenda

Perjalanan menyusuri bekas aliran lava gunung api diwarnai dengan tanjakan dan juga turunan dengan latar belakang pemandangan Curug Sigay.
Perjalanan menyusuri bekas aliran lava gunung api diwarnai dengan tanjakan dan juga turunan dengan latar belakang pemandangan Curug Sigay.

Sudah banyak orang mengetahui legenda Gunung Tangkuban Parahu. Bentang alam penanda bagian utara Kota Bandung itu, konon terbentuk karena Sangkuriang menendang perahu buatannya, setelah gagal memenuhi persyaratan yang diajukan calon istri-yang juga ibunya sendiri-Dayang Sumbi. Perahu yang terbalik itu akhirnya disebut- sebut sebagai Gunung Tangkuban Parahu.

Namun, tidak banyak orang yang mengetahui asal muasal pembentukan gunung itu secara alamiah. Perjalanan yang di gagas oleh Mahanagari bekerjasama dengan Jantera, kelompok pencinta alam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada akhir Oktober lalu, mengajak pesertanya mengenali peristiwa pembentukan Gunung Tangkuban Parahu dari sisa-sisa lavanya.

Perjalanan kali ini dimulai jam setengah delapan pagi dari Plasa Utara Isola UPI. Bangunan cantik bergaya art deco yang digunakan sebagai gedung Rektorat UPI ini didesain oleh arsitek ternama C P Wolff Schoemaker.

Bangunan yang dibangun dari Oktober 1932 hingga Maret 1933, dengan bantuan biro arsitektur AIA di Batavia itu, berada di sisi kiri jalan bila kita menuju ke Lembang dari Bandung. Kerangka bangunan dan jendelanya terbuat dari baja. Sedangkan, lantainya dari beton cor. Struktur bangunan yang melengkung dan bertingkat ini menjadi salah satu warisan budaya yang masih bisa dinikmati.

Para peserta Lava Tour menyeberangi aliran Ci Beureum yang melewati Curug (air terjun) Sigay di belakang kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Curug itu menjadi salah satu bukti adanya aliran lava yang membeku di daerah tersebut
Para peserta Lava Tour menyeberangi aliran Ci Beureum yang melewati Curug (air terjun) Sigay di belakang kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Curug itu menjadi salah satu bukti adanya aliran lava yang membeku di daerah tersebut

Dalam perjalanan itu, para peserta ditemani oleh Titi Bachtiar, seorang dosen ekonomi yang juga aktif menjadi peneliti dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung. Menurut dia, kawasan Bandung sebelah utara menyimpan banyak ‘kekayaan’ yang bisa jadi sumber pengetahuan buat warganya.

Pelajaran sambil jalan-jalan kali ini dimulai dengan sejarah letusan Gunung Sunda yang meletus dan mengeluarkan lava dengan volume yang luar biasa banyaknya. Lava itu mengalir ke lembah-lembah yang mengarah ke bagian utara dan selatan, seperti yang mengalir sepanjang lembah hingga Curug Aleh di Kompleks Perumahan Setraduta, atau di lembah-lembah lainnya, seperti di Lebak Cigugur, di Ci (sungai) Beureum, Ci Hideung, Ci Mahi, dan lain-lain.

Setelah semua peserta berkumpul, perjalanan dimulai ke arah belakang kampus UPI. Menyusuri gang dan bangunan yang menjadi pondokan mahasiswa, kita bisa melihat seperti apa pengembangan sebuah kawasan yang tidak terencana. Permukiman padat dengan jalanan yang sempit, pada saatnya akan mengakibatkan kesulitan sendiri buat warganya, misalnya kalau ada kebakaran.

Setelah mengikuti jalur jalan sempit yang berkelok-kelok, kita sampai pada onggokan lava yang sudah membeku di sisi kanan jalan. Tingginya mencapai 10 meter. Bachtiar menjelaskan, lava yang panasnya 1.200 Celcius itu membeku di titik tersebut. “Awalnya berwarna merah seperti gulali (penganan dari gula) lalu tiba-tiba membeku.”

Ujung lava yang membeku di lembah-lembah itu kemudian dialiri air, membentuk jeram, curug, cai urug, serta air terjun. Namun, ada pula lembah-lembah yang dipenuhi aliran lava, sehingga aliran sungai beralih ke sebelahnya.

Tidak jauh dari lokasi perhentian pertama, kita bisa melihat pembekuan lava itu dalam ukuran yang lebih besar. Masyarakat menamainya Curug (air terjun) Sigay. Sigay dalam bahasa Sunda berarti bambu panjang yang di antara bilah-bilahnya dibuat ceruk, sehingga bambu itu bisa menjadi tangga.

Peristiwa pembekuan secara alami ini yang mengakibatkan sepanjang lembah-lembah tadi terdapat bongkah-bongkah aliran batuan beku yang amat panjang. Jika diukur dari pusatnya di Gunung Sunda, jarak alirannya bisa mencapai 15 kilometer.

Curug Sigay, sambung Bachtiar, seperti halnya air terjun lain, memiliki fungsi aerasi. “Air terjun itu penting adanya, karena itu bisa menghilangkan partikel yang tidak penting dalam air. Oksigen jadi masuk ke dalam air. Kualitas air menjadi lebih baik,” terang dia.

Kembali ke soal Gunung Sunda. Bachtiar mengungkapkan, gunung itu mengalami beberapa unit letusan yang terjadi dalam rentang waktu antara 210.000-105.000 tahun yang lalu. Satu di antara letusannya itu mengeluarkan lava, batuan pijar dari perut bumi yang panasnya 1.200 derajat Celcius.

Gunung Jayagiri

Dinding lava yang berada di daerah (sungai) Ci Hideung menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati bersama air terjun kecil yang berada di sebelah baratnya
Dinding lava yang berada di daerah (sungai) Ci Hideung menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati bersama air terjun kecil yang berada di sebelah baratnya

Sebelum ada Gunung Sunda, ada yang namanya Gunung Jayagiri. Anggota Masyarakat Geografi Indonesia ini menyebutnya sebagai kakek Gunung Tangkuban Parahu. Gunung dengan ketinggian lebih dari 4 ribu meter itu diperkirakan meletus 560.000 sampai 500.000 tahun yang lalu. Jejak-jejak aliran lava yang bisa dilihat peserta tur kali ini, berada di sepanjang aliran Ci Beureum.

Akibat meletus, puncaknya hilang dan membentuk kaldera atau kawah. Dari kawah itu, kemudian terbentuk gunung baru yang akhirnya menjadi Gunung Sunda. Seperti pendahulunya, Gunung Sunda juga meletus dan materialnya membendung Danau Bandung Purba. “Itu bisa dilihat dari endapannya. Ketebalannya mencapai 40 meter di daerah Cibogo (dekat Cimahi),” terang Bachtiar.

Perjalanan menyusuri aliran Ci Beureum ini cukup menyenangkan. Meski peserta harus berbasah-basah oleh air sungai. Sembari berjalan di aliran sungai, Bachtiar menjelaskan, masyarakat di aliran sungai itu berpotensi terkena penyakit gondong atau gondok.

Penyakit ini dipicu oleh gejala pembesaran pada kelenjar tiroid yang terjadi karena penderitanya kekurangan yodium. Hal ini wajar terjadi di aliran sungai yang terjadi karena lelehan lava. “Air kawah itu asam sehingga, bisa kekurangan yodium. Akibatnya, selain gondong, kecerdasan berkurang serta pertumbuhan badan terhambat.”

Hal-hal seperti ini, sambung dia, seharusnya menjadi pelajaran buat masyarakat, dan juga pemerintah daerah. Pelajaran paling sederhana yang bisa diambil adalah melihat sampai di mana lontaran material dari gunung api itu? “Untuk mitigasi juga bisa dilihat aliran lavanya seperti apa,” kata Bachtiar. [Suara Pembaruan/Adi Marsiela]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.