Palabuhan Ratu, Bukan Hanya Mak Erot

Mak Erot! Mak Erot! Mak Erot …. Begitulah teriakan pemuda maupun tukang ojek bila kita memasuki sekitar Cisolok di kawasan wisata Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Apalagi bila mobil yang kita tumpangi berasal dari Jakarta atau bukan mobil wilayah Bogor/Sukabumi. Kalau penumpangnya semua laki-laki, pasti teriakannya lebih seru lagi. Bahkan dikejar. Mak Erot! Mak Erot!

Apa dan siapa sih sebetulnya Mak Erot itu? Ini hanya untuk laki-laki lho! Tidak berlaku bagi wanita. Laki-laki itu pun yang dewasa yang ingin membesarkan alat vitalnya. Biar josssssss…, Itu katanya. Anehnya, Mak Erot tidak hanya di daerah Cisolok. Tetapi di mana-mana ada papan nama Mak Erot. Lalu berapa banyak Mak Erot itu?

Konon, Mak Erot yang sebenarnya itu sudah meninggal dunia. Sekarang di Cisolok itu anak-anaknya. Yang di luar Cisolok dan di luar kawasan wisata Palabuhan Ratu itu dipastikan juga bukan Mak Erot. Papan nama Mak Erot itu lebih cenderung pada penipuan, kata Dadang Hendar, Ketua TP3TP (Tim Penataan, Penertiban dan Pelestarian Teluk Palabuhan Ratu) yang juga Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Kabupaten Sukabumi.

Pandangan orang awam, kalau ke Daerah Wisata Palabuhan Ratu itu hanya Mak Erot haruslah kita hilangkan. TP3TP telah melakukan kegiatan dengan mencopot papan nama Mak Erot. “Tetapi begitu dicopot, masih ada saja yang memasang. Bahkan pernah kru stasiun televisi swasta datang ke mari untuk meliput Mak Erot. Saya jelaskan Mak Erot yang sebenarnya itu tidak lebih dari penipuan,” tambah Dadang Hendar.

Sampai saat ini TP3TP banyak memberikan sumbangan kegiatan untuk meningkatkan cita daerah wisata Palabuhan Ratu. Citra Palabuhan Ratu hanya Mak Erot harus dihilangkan. Demikian juga citra pantai yang kumuh harus dihilangkan. Organisasi yang dimotori pendiriannya oleh Sekda Kabupaten Sukabumi H Azis Mien Alamsyah M.Si. ini juga melakukan penertiban lokalisasi WTS di Pantai Citepus dengan biaya yang murah. Saat ini wisatawan bisa nyaman berkunjung ke Citepus.

Menurut pengamatan Pembaruan, wisatawan yang tidak mendapatkan kamar di hotel tidak perlu khawatir, datang saja ke Citepus, ada rumah yang disewakan semalam Rp 200.000. Kamarnya cukup bersih dengan tempat tidur kasur, kamar mandi yang bersih. Banyak rumah makan – yang sebagian besar didominasi ikan bakar – ada di sekitarnya. Soal keamanan, jangan khawatir sebab di sekitar itu terdapat Pos Polisi dan aparat keamanan dan polisi selalu patroli di tempat ini, kata seorang pengelola rumah sewaan di Pantai Citepus.

Wisatawan sendirian maupun sekeluarga dengan nyaman bisa jalan-jalan di pantai ini. Baik pagi, siang maupun malam hari tanpa diganggu WTS. Berkemah maupun duduk-duduk atau tiduran di atas tikar di pantai ini cukup nyaman.

Sayangnya, kesan semrawut masih tampak di lokasi ini. Bila malam masih tampak ada lampu remang-remang warna merah redup yang terkesan masih sebagai tepat lokalisasi.

Jaga Kebersihan

Kawasan pantai Kabupaten Sukabumi panjangnya 117 km. Khusus untuk pantai di sekitar Palabuhan Ratu terus dijaga kebersihannya. Setiap hari Jumat , TP3TP beserta anak-anak sekolah membersihkan pantai. Masyarakat di sekitar pantai diajak untuk menjaga kebersihan pantai sehingga semakin banyak menarik wisatawan. Setiap tahun sekitar 1,3 juta wisatawan nusantara maupun mancanegara mengunjungi Palabuhan Ratu. bila setiap orang membelanjakan Rp 20.000 maka dalam satu tahun Palabuhan Ratu memasukan pendapatan Rp 26 miliar.

PHRI, TP3TP terus berusaha menjaga kelestarian pesisir Palabuhan Ratu untuk menarik wisatawan, kata Dadang Hendar. Dibandingkan dengan Pantai Pangandaran yang terletak juga di pantai selatan Jawa Barat maka kawasan Palabuhan Ratu tidak kalah menarik Ombak laut di kawasan Palabuhan Ratu relatif lebih tenang dibandingkan tempat lain sebab dilindungi oleh teluk. Untuk berenang, mandi dan rekreasi lain lebih aman. Namun ada juga tempat yang cocok untuk berselancar (surfing).

Oleh karena itu saat ini telah dijajaki paket wisata arung gelombang. Pernah diadakan lomba tetapi sifatnya masih terbatas. Kalau di sungai ada arung jeram maka di laut ada arung gelombang. Ini merupakan daya tarik lain, tambah Dadang Hendar. Tidak perlu khawatir berekreasi di pantai. Sebab saat ini telah dilatih 8 orang sebagai penyelamat pantai (life guard), semacam penjaga pantai (bay watch).

Saetiap orang yang telah dilatih ini diharapkan mengembangkan keterampilannnya untuk 5 sampai 10 orang lagi sehingga akan semakin banyak pemuda di kawasan sini yang mampu menjadi pengawal pantai.

Demikian pula pernah diadakan lomba masak hidangan dari laut yang diselenggarakan oleh PHRI bekerjasama dengan TP3TP. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar pantai, Tim ini pernah pula menyalurkan 150 ton beras bantuan dari Yayasan Tsu Zie Taiwan. Semuanya ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar pantai Palabuhan Ratu sehingga betul-betul menjaga kelestarian lingkungan.

Yayasan

Berkaitan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Se Dunia yang jatuh pada 6 Juni 2004 maka pada 5 Juni 2004 di Palabuhan Ratu dideklarasikan berdirinya Yayasan Pengelolaan Pesisir Terpadu Indonesia (YPPTI) dalam satu sarasehan Pembahasan Issue Strategis Pengelolaan Pesisir Secara Terpadu. Walaupun didirikan di Palabuhan Ratu namun kegiatan dan cabangnya berada di seluruh Indonesia.

Dasar didikannya adalah setelah melihat menurunnya kualitas pesisir karena kualitas lingkungan hidup juga menurun karena rusak. Ini sebagai akibat tidak dilaksanakannya komitmen stakeholder dalam mengelola lingkungan. Pengelolaan lingkungan dilakukan secara tidak benar. Semua ini berakibat pada menurunnya pendapatan masyarakat di sekitarnya.

Menurut Ketua YPPTI Dadang Hendar, melalui yayasan ini maka peran masyarakat dalam pengembangan lingkungan pesisir dan laut ditingkatkan. Menyalurkan buah piker para pakar dan nara sumber lain dalam pembinaan lingkungan, ikut menjaga keseimbangan lingkungan dan menjaga kelangsungan ekosistem pesisir dan laut.

Untuk itu pihak yayasan akan minta bantuan pemda setempat untuk menyediakan lahan kosong atau yang telah rusak untuk dikelola sehingga akan pulih kembali. Demikian pula akan mendirikan sekolah tingkat atas maupun sekolah tinggi pariwisata yang betul-betul mengetahui dan memahami serta mampu mengelola objek wisata lingkungan pesisir dan laut.

Menyambut Hari Syukuran Nelayan Ke-44 maka di Palabuhan Ratu sejak 18 Mei sampai 12 Juni 2004 diadakan serangkaian kegiatan seperti turnamen voli, kontes ratu dan raja, pasar murah, lomba lari, lomba jalan santrai, pesta band, lomba joget dangdut, tablig akbar. Puncaknya ialah upacara adat Labuh Saji dan laut yang dilaksanakan pada Minggu 6 Juni lalu.

labuh saji – Perahu-perahu nelayan ikut meramaikan upacara adat labuh saji laut dengan menaburkan sesaji di lautan.

Gua Kelelawar

Salah satu objek wisata di kawasan Palabuhan Ratu yang harus dilestarikan ialah Gua Laylay (Laylay dalam bahasa Sunda berarti kelelawar). Gua ini tempat bersarangnya kelelawar kecil. Jumlahnya, jutaan, bahkan mungkin miliaran. Tidak ada yang bisa menghitung secara tepat. Diperkirakan saja sulit, karena besarnya badan kelelawar ini hanya sejempol manusia dewasa, kata Ajid, petugas Dinas Pariwisata Daerah Kabupaten Sukabumi yang menjaga objek wisata ini.

Setiap hari antara pukul 17.00 – 18.00, kelelawar ini keluar dari gua. Waktu tepatnya tergantung musim dan perubahan cuaca. Bila musim kemarau, kurang dari pukul 17.00 mereka sudah ke luar. Bila musim penghujan maka pukul 17.00 lebih sedikit baru keluar.

Lamanya ke luar sekitar 30 menit. Bila musim kemarau maka keluar ke sebelah kanan gua dan bila musim penghujan, keluar ke sebelah kiri.

Namun pada awal Juni lalu ketika terjadinya perubahan musim, rombongan pertama kelelawar keluar ke sebelah kanan mulut gua sekitar 10 menit, Kemudian rombongan berikutnya ke sebelah kiri. Dan sebelah beberapa ratus meter terbang, rombongan lainnya mencari jalan lain walaupun ke luarnya ke kiri mulut gua.

Kelelawar ini baru kembali ke gua esok pagi berikutnya antara pukul 05.00 sampai 06.00. Ketika memasuki gua, berlainan ketika keluar gua. Ketika masuk mereka ini menukik dari atas turun tegak lurus , baru masuk ke gua. Ada 9 pemimpin kelelawar. Semuanya berwarna putih, besarnya sama dengan kelelawar biasa. Dari 9 ekor itu, tidak semuanya keluar. Ada yang tetap tinggal di dalam gua, mungkin digilir. Setiap keluar mereka selalu berjumlah ganjil, 3 atau 5 ekor. Bahkan pernah hanya satu ekor saja yang ke luar. Entahlah apa sebabnya. Mungkin mereka ada perjanjian tersendiri antara kelelawar. Demikian juga mengapa warna pemimpinnya putih. Tidak ada yang tahu, yang terang menitik dari bentuk dan warnanya, mereka dari lahir telah berwarna putih. Kalau begitu, menjadi pemimpin kelelawar itu tidak dipilih melainkan dilahirkan.

Selama perjalanannya di malam hari, kelelawar-kelelawar ini memasuki hutan-hutan untuk mencari makan. Yang dimakan ialah serangga, semut. Ini kelelawar pemakan serangga, bukan kelelawar pemakan buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan. Kotoran yang bercampur air kencing kelelawar ini jatuh di dasar gua. Kelelawar ini menggantung di atap maupun di dinding-dinding gua.

Kotorannya diambil untuk dijadikan pupuk sawah, tanaman sayur-sayuran, buah-buahan. Gua Lalay menghasilkan 50 ton pupuk dari kotoran kelelawar yang disebut guano dalam satu tahunnya. Ada perusahaan yang mengambil pupuk ini. Desa Lalay tempat Gua Lalay ini, mendapatkan penghasilan Rp 22,5 juta/tahun dan masih mendapat beberapa karung untuk keperluan pemupukan tanaman milik masyarakat di desa ini. Tidak tahu ke mana pengusaha itu memasarkan pupuk kotoran kelelawar tersebut. Gua Laylay, merupakan satu-satunya gua yang menghasilkan guano di Jawa Barat. Gua itu sendiri baru dihuni oleh kelelawar sejak tahun 1963.

Letak Gua laylay tak jauh dari pusat kota Palabuhan Ratu, hanya sekitar 10 menit dari pusat kota. Letaknya di pinggir pantai. Dahulu, lokasi ini tergenang air laut yang di tahun 1945 menyusut dan membentuk daratan kering yang kemudian menjadi daerah permukiman Saat ini jarak antara gua dan air laut sekitar 200 meter. Panjang gua 38 meter dan tinggi 5 meter.

“Air laut ini tidak pernah lagi kembali ke dekat gua”, kata Ajid. Gua ini berada di kaki bukit kecil setinggi 30 meter. Di bukit ini terdapat 8 gua. Di sebelah kiri, sekitar 30 meter dari mulut Gua Laylay terdapat Gua Landak. Dahulu gua ini dihuni oleh ratusan landak. Bahkan ada landak sebesar kambing. Tetapi landak ini sekarang sudah punuh, akibat diburu manusia untuk dijadikan obat dan sebagian sudah mengungsi ke daerah lain. Gua Landak sekarang dihuni oleh biawak.

Oleh lembaga konservasi binatang, biawak ini ditandai. Ada 30 biawak besar yang panjangnya antara 1 sampai 2 meter dan diberi tanda. Masih ada ratusan biawak kecil. Bila malam hari, sekitar pukul 23.00 biawak ini keluar gua untuk mencari makan dan minuman. Kelelawar yang jatuh dimakan biawak. Kemudian biawak ini menceburkan diri ke kolam untuk minum. Kolam ini terjadi ketika laut waktu itu menyurut dan karena besarnya maka tidak diurug dan menampung penampungan air.

“Banyak orang tidak percaya kalau biawak tidak memakan ayam. Coba lihat saja. Itu ayam-ayam saya main di dalam gua. Biawak tidak memangsa ayam. Mereka memangsa kelelawar yang jatuh, ujar Ajid. Di sekitar situ ada pula gua yang sekarang ini kosong. Menurut sahabul hikayat, dahulu di goa ini dihuni oleh monyet kecil dengan kuku yang panjang. Namun orang di sini belum pernah menemukan binatang aneh tersebut. Itu hanya cerita turun temurun yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Ikan Bakar

Soal makanan, yang menarik Palabuhan Ratu ialah aneka hidangan dari laut (seafood). Hampir semua rumah makan di Pantai Citepus menawarkan aneka ikan bakar. Baronang, kakap, kue, cumi-cumi, udang. Bisa juga dimasak lain seperti saos tiram, asam manis. Sayangnya kita tidak bisa mengetahui rumah makan yang mana yang masakannya enak dan harganya murah. Lagi pula, ikannya sudah disimpan dalam freezer, bukan ikan segar lagi.

Kalau ingin ikan yang segar, datang saja ke pasar TPI (Tempat Pendaratan Ikan) yang letaknya di kota, Palabuhan Ratu Di pagi hari, sekitar pukul 04.00 sampai 05.000 kita bisa menyaksikan perahu-perahu nelayan mendaratkan ikan hasil tangkapan yang kemudian dijual secara lelang di TPI. Demikian juga di sore hari kita bisa menyaksikan hal yang sama. Bahkan kita juga bisa langsung membeli ikan yang masih segar itu dari pada pedagang di TPI.

Kita bisa minta ikan tersebut dikemas dalam tas plastik yang diberi es agar tetap segar sampai ke rumah kita. Sayang, seharusnya pedagang juga menyediakan kotak stereofoam yang diisi es batu., tetapi ini tidak ada. Atau bisa pula membeli ikan yang diawetkan, jambal roti Rp 35.000/kg. Jambal daging Rp 25.000/kg, gabus laut Rp 20.000/kg, cumi, sotong yang telah diawetkan, ikan teri, terasi, pindang tongkol dan sebagainya.

Walaupun tidak ada perahu nelayan yang membongkar ikan, tetapi pedagang tetap menyediakan ikan segar yang ditempatkan di kota-kotak diisi es batu. Ikan baronang, ikan salem, ikan kue, ikan ayam-ayam, kakap merah, kakap hitam Rp 20.000/kg, Cumi-cumi Rp 20.000/kg. Udang Rp 35.000, lobster Rp 60.000/kg.

Di lokasi ini juga ada orang yang menerima jasa untuk membersihkan ikan, udang, cumi dan sebagainya yang kita beli mentah tersebut untuk dimasak. Tergantung mau dibakar, digoreng, dibumbui saos tiram atau apa saja. Ongkosnya Rp 10.000/kg (termasuk sambalnya). Sayang kita tidak bisa langsung menikmatinya di lokasi tersebut karena tidak disediakan tempat makan. Mau dibawa pulang atau dimakan di hotel terserah saja. Atau di makan di Pantai Citepus dengan keluarga. Di warung-warung di pantai Citepus kita tinggal memasan nasi, minuman, lalapan atau cah kangkung.

Jangan lupa, banyak hotel di lokasi ini untuk berlibur anda sekeluarga.

PEMBARUAN/ROSO SETYONO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.