Sawahlunto “Belanda Kecil” di Sumatera Barat

Sawahlunto di Sumatera Barat bukan lagi daerah penghasil tambang batubara terbesar di Indonesia. Dahulu memang daerah penghasil batubara terbesar yang dimulai tahun 1891. Areal penambangan ini ditemukan oleh seorang geolog Belanda, William Hendrik De Greve pada tahun 1867 yang diperkirakan depositnya 200 juta ton. Tambang terbuka saat ini sudah menipis setelah ditambang 110 tahun. Yang ada penambangan dalam.

Rumah Adat Kuno dibangun tahun 1920. [Istimewa]

Gereja Katolik  Sawahlunto dibangun tahun 1920. Sampai saat ini masih digunakan umat Katolik      di sini untuk beribadah. [Istimewa]

Ada 100 bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai sejarah. Demikian pula bekas penambangan, stasiun kereta api, terowongan kereta api. Memiliki nilai sejarah yang tinggi dan dijadikan objek wisata.

Dengan aset seperti itu, Kota Sawahlunto saat ini berbenah “Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya pada Tahun 2010”. “Dengan aset peninggalan itu, kita lebih menghayati arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Apalagi yang bekerja di tambang batubara waktu itu adalah orang- orang hukuman (orang- orang rantai) dari pelbagai suku di Indonesia. Sisa-sisa kebudayaan masih ada di sini. Sawahlunto sepertinya itu Miniatur Indonesia,” kata Wali Kota Sawahlunto Ir H Amran Nur kepada pers beberapa waktu lalu.

Beberapa bangunan kuno yang sudah direnovasi antara lain Museum Kereta Api. Ternyata Ambarawa bukan satu-satunya Museum Kereta Api di Indonesia. Stasiun Sawahlunto juga menjadi Museum Kereta Api. Jalur KA dibangun oleh Belanda pada tahun 1892 dari Sawahlunto menuju ke Pelabuhan Teluk Bayur (dahulu bernama Emmahaven) Padang untuk mengangkut batubara.

Orang-orang Belanda yang pernah bekerja di Sawahlunto ataupun ahli warisnya sering datang mengunjungi daerah itu. Nostalgia. Para ahli waris ingin menapaktilasi cerita orangtua atau kakek neneknya dahulu. Wisatawan mancanegara yang paling banyak datang memang dari Belanda. Paket wisata memang banyak dijual ke Belanda. Mereka tinggal beberapa hari di sana. Sayangnya hanya ada satu penginapan yang tersedia, Wisma Ombilin. Sebagian tinggal di rumah-rumah penduduk (home stay).

“Dengan peninggalan seperti itu kita ingin menciptakan Sawahlunto sebagai “Belanda Kecil” (Small Nederland), kata Walikota H Amran Nur.

Dahulu Belanda membangun Proyek Tiga Serangkai, yakni Tambang Batubara Ombilin, jalur KA, dan pelabuhan Teluk Bayur. Pembangunan jalur KA pertama dilakukan dari Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang (71 km) selesai 12 Juli 1891. Dari Padang Panjang – Bukittinggi (19 km) selesai November 1891. Padang Panjang – Solok ( 53 km) selesai Juli 1892. Solok – Muara Kalaban (23 km) dan Padang – Teluk Bayur (7 km) selesai Oktober 1892. Yang terakhir ialah Muara Kalaban ke Sawahlunto (2 km) yang harus menembus sebuah bukit dengan membuat terowongan sepanjang 835 meter yang selesai Januari 1894. Terowongan ini dikerjakan oleh orang hukuman (orang rantai).

Karena angkutan batubara menurun maka sejak 2002, jalur KA dan Stasiun KA Sawahlunto ini tidak beroperasi dan dijadikan museum. Sayangnya, lokomotif pertama yang waktu itu digunakan, saat ini berada di Museum KA Ambarawa.

Sekarang, jalur itu hanya untuk KA/lori wisata, yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu atau pada hari libur lain. Jaraknya pergi pulang dari Stasiun Sawahlunto ke Stasiun Muara Kalaban sepanjang 2 km melewati terowongan (disebut Lubang Kalam), tarifnya Rp 3.000 per orang.

Gudang Ransum

Bangunan bersejarah lainnya yang sudah direnovasi dan layak dikunjungi ialah Gudang Ransum (Goedang Ransoem). Gudang Ransum merupakan dapur umum yang dibangun tahun 1918 yang memiliki dua buah tungku pembakaran. Tungku ini buatan Jerman tahun 1894 yang dibuat oleh Rohrendampfkesselfabrik DR Patente No 13449 dan 42321. Peralatan memasak lainnya juga masih bisa ditemui di tempat itu seperti periuk raksasa untuk memasak beras.

Dapur umum itu dahulu untuk memberi makan para pekerja pertambangan. Tidak kurang dari 65 pikul setiap hari atau setara 3.900 kg nasi. Selain untuk pekerja pertambangan juga untuk memberi makan kepada pasien rumah sakit, keluarga pekerja tambang. Sekitar 100 orang bekerja di dapur umum ini.

Untuk mengenang dan menghayati makna Museum Gudang Ransum, sebaiknya turis datang di pagi hari sambil sarapan di tempat itu. Disarankan, sarapan makan bubur kampiun yang terkenal di Sawahlunto. Bubur ini terdiri dari bubur kacang ijo, bubur tepung beras, dan kue lopis yang disiram dengan gula jawa yang telah dicairkan agak kental. Disantap ketika masih panas. Atau bisa makan nasi dengan lauk khas Sawahlunto yakni dendeng batoko.

Masih ada bangunan-bangunan kuno di kota lama lain yang layak dikunjungi sebagai peninggalan sejarah. Sekolah Santa Lucia, Gedung Societet, Kompleks Rumah Sakit Umum, Gereja Katolik, Rumah Fak Sin Kek, Gedung Komedi, Gedung Bioskop, Rumah Demang, Rumah Adat Kuno dan Masjid Nurul Huda. Bangunan ini dibangun pada awal tahun 1900an dan sampai sekarang masih berfungsi.

Selain gedung-gedung kuno tersebut, jangan dilewatkan pula pusat kerajinan Silungkang. Yang terkenal selain kerajinan tangan ialah kain tenun Silungkang. Yang bagus harganya jutaan rupiah dan sudah terkenal sampai ke luar negeri. Sapu ijuk buatan Silungkang juga terkenal kuat.

Di Muara Kalaban saat ini sedang dibangun Waterboom. Bisa untuk istirahat sejenk bagi yang ingin melanjutkan perjalanan menuju Riau. Bagi yang ingin wisata ziarah, di Sawahlunto terdapat makam pahlawan nasional Prof Mr H Muhammad Yamin. Ia lahir di kota ini.

Lori Wisata melengkapi Museum Kereta Api Sawahlunto yang dijalankan pada Sabtu, Minggu dan hari-hari libur lain. [Pembaruan/Roso Setyono]

Wisata Pertambangan

Untuk menapaktilasi bekas areal pertambangan, kunjungilah kawasan Kandih. Areal ini dahulu dikeruk, diambil batubaranya. Untuk menjaga agar lingkungannya tidak rusak, areal ini dijadikan arena pacuan kuda. Sisa-sisa areal pertambangan yang masih utuh juga bisa dilihat di sini, termasuk angkutan batubara dengan ban berjalan (conveyer belt).

Untuk tingkat lokal dan provinsi telah dilakukan uji coba. Bahkan mampu menampung 40.000 orang penonton. Tanggal 17-18 September dilakukan pacuan kuda nasional yang diikuti 10 provinsi dengan pengunjung sekitar 100.000. Kelas areal pacuan kuda ini nomor dua setelah Pulomas Jakarta. Di sekitarnya dibangun pula pembibitan sapi. Direncanakan dibangun pula taman safari.

Di areal bekas penambangan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Sawahlunto mengundang investor untuk mengembangkan daerah wisata Kandih seluas 400 ha. Hak Guna Usaha (HGU) akan diberikan gratis untuk waktu 25 tahun.

“Semua perizinan yang diperlukan dari Pemkot Sawahlunto akan diberikan secara cepat tanpa dipungut biaya. Silakan dibuat hotel, resor atau untuk taman safari,” kata Wali Kota.

Di bekas penambangan itu terdapat Danau Kandih seluas 12 ha untuk wisata air. Danau itu adalah be- kas galian yang kedalamannya ada yang sampai 175 meter yang terbentuk pada 25 April 2003.

Karena dinding penahan dari lubang tersebut tidak kuat maka air Sungai Ombilin menjebol dinding tersebut dan terbentuklah Danau Kandih. Air Sungai Ombilin mengisi lubang ini sampai 3 jam dan aliran sungai ke bawahnya kering. “Sekarang sudah normal lagi. Tinggal kita memanfaatkan untuk objek wisata dan perikanan,” katanya.

Selain itu, diundang pula investor untuk mengembangkan PLTU Sijantang dari 2 x 100 MW menjadi 4 x 100 MW. Dana yang dibutuhkan US$ 200 juta yang saat ini dalam pembicaraan antara PLN dengan pihak Australia. PLTU yang menggunakan bahan bakar batu- bara ini akan memperluas interkoneksi di Sumatera.

[Pembaruan/Roso Setyono]

One thought on “Sawahlunto “Belanda Kecil” di Sumatera Barat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.